Khotbah-huzur-20220304

Revisi per 11 Maret 2022 04.44 oleh Isa (bicara | kontrib) (Mengoreksi hal-hal kecil)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Ringkasan Khutbah Jum’at Kutipan dari Khutbah Jum'at yang disampaikan oleh Hadhrat Khalīfatul-Masīh V aba pada 04 Maret 2022 di Masjid Mubarak Islāmabad, Tilford, Inggris.

Setelah membaca tasyahud, ta`awwuz dan surah al-Fatihah, Khalifatul Masih Al-Khamis, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad aba. bersabda bahwa beliau aba. akan menyoroti kembali peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan Hadhrat Abu Bakar ra.

Terpilihnya Hadhrat Abu Bakar ra. sebagai Khalifah

Hudhur aba. bersabda bahwa beliau aba. akan menyampaikan kembali peristiwa-peristiwa berkenaan dengan pemilihan Hadhrat Abu Bakar ra. sebagai Khalifah. Hudhur aba. bersabda bahwa Khubab bin Munzir ra. meminta kaum Anshar agar tidak berselisih pendapat di antara mereka sendiri dan supaya mereka tetap teguh pada pendirian mereka bahwasanya harus ada seorang pemimpin dari antara mereka (kaum Anshar) dan juga seorang pemimpin dari kaum Muhajirin. Hadhrat Umar ra. bersabda bahwa hal itu tidak akan pernah diterima oleh orang-orang Arab karena tidak mungkin ada dua pedang dalam satu sarung. Selain itu, tidak akan mungkin diterima juga apabila pemimpin nanti dipilih dari kalangan orang-orang yang bukan dari golongan Nabi Muhammad saw. berasal, yaitu golongan kaum Quraisy. Hal ini menyebabkan perselisihan dan juga perbedaan pendapat yang berkelanjutan.

Hudhur aba. bersabda, Hadhrat Abu Ubaidah ra. berkata kepada kaum Anshar bahwa merekalah orang-orang yang pertama kali mendukung Nabi Muhammad saw. dan sekarang, mereka seharusnya tidak menjadi orang pertama yang menciptakan perpecahan. Hadhrat Umar ra. kemudian memegang tangan Hadhrat Abu Bakar ra. dan bertanya, kepada siapakah Nabi Muhammad saw. telah bersabda, “Janganlah bersedih hati, karena sesungguhnya Allah Ta’ala bersama kita”. Orang itu adalah sahabat beliau saw. ketika berada di dalam gua, yang tidak lain adalah Hadhrat Abu Bakar ra. Hadhrat Umar ra. kemudian berbai’at kepada Hadhrat Abu Bakar ra. dan mengajak semua orang yang hadir ketika itu untuk mengikutinya. Sehingga, satu per satu, orang-orang pun maju dan berbai’at kepada Hadhrat Abu Bakar ra. sebagai Khalifah Islam pertama. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Bai'at Tsaqifah Bani Sa'idah.

Hudhur aba. bersabda, keesokan harinya, Hadhrat Umar ra. menyampaikan pidato yang di dalam pidatonya tersebut, beliau ra. bersabda bahwa Allah Ta’ala telah mempercayakan umat-Nya berada di tangan seseorang yang terbaik di antara mereka, yang merupakan salah satu dari dua orang yang disebutkan ketika berada di dalam gua. Beliau ra. pun kembali mengajak semua orang untuk berbai’at kepada Hadhrat Abu Bakar, yang kemudian, hal itu dilakukan oleh mereka.

Hudhur aba. bersabda bahwa Hadhrat Abu Bakar ra. juga menyampaikan pidato yang di dalamnya, beliau ra. bersabda bahwa beliau ra. akan berupaya sekuat tenaga untuk memberikan hak-hak setiap orang. Beliau ra. bersabda bahwa mereka harus mengikutinya selama beliau ra. masih tetap taat dan setia kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya saw.

Bai’atnya Hadhrat Ali ra. kepada Hadhrat Abu Bakar ra.

Hudhur aba. bersabda bahwa ketika Hadhrat Ali ra. diberitahu bahwasanya Hadhrat Abu Bakar ra. telah mengambil bai’at dari mereka, maka beliau ra. pun segera bergegas pergi, bahkan tanpa benar-benar ada persiapan sama sekali, agar beliau ra. tidak menunda-nunda untuk berbai’at kepada Hadhrat Abu Bakar ra. Hal ini bertentangan dengan beberapa riwayat yang menyatakan bahwa Hadhrat Ali ra. telah menunda-nunda untuk berbai’at kepada Hadhrat Abu Bakar ra. Hudhur aba. bersabda bahwa riwayat yang mengatakan bahwa Hadhrat Ali ra. berbai’at kepada Hadhrat Abu Bakar ra. di hari pertama atau kedua setelah wafatnya Nabi Muhammad saw. adalah riwayat yang paling akurat, karena Hadhrat Ali ra. tidak pernah beranjak pergi dari sisi Hadhrat Abu Bakar ra.

Abu Quhafah Meneguhkan Kembali Keimanannya Setelah Putranya Terpilih Sebagai Khalifah

Hudhur aba. bersabda, berita mengenai orang-orang yang berbai’at di tangan Hadhrat Abu Bakar ra. akhirnya terdengar hingga ke Mekah. Berita ini juga sampai ke telinga ayahanda dari Hadhrat Abu Bakar ra., yaitu Abu Quhafah. Ia kaget, dan kemudian menyebutkan nama berbagai suku dan bertanya, apakah mereka juga telah berbai’at kepadanya? Dia mendapatkan jawaban, “Ya”. Setelah mendengarnya, Abu Quhafah lalu menyatakan, 'Saya bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw. adalah utusan-Nya'. Meskipun dia telah memeluk agama Islam sebelumnya, mendengar bahwa putranya – yang sebelum adanya Islam, bukanlah siapa-siapa– namun sekarang diterima oleh orang-orang Arab sebagai pemimpin mereka, hal itu semakin memperkuat keimanannya.

Mimpi tentang Khalifah Hadhrat Abu Bakar ra.

Hudhur aba. bersabda bahwa suatu kali, Nabi Muhammad saw. melihat di dalam sebuah mimpi yang menandakan kekhalifahan Hadhrat Abu Bakar ra. Beliau saw. melihat bahwa beliau saw. sedang berdiri di dekat sumur, dan kemudian melihat Hadhrat Abu Bakar ra. datang dan mengambil air dari sumur itu. Kemudian Hadhrat Umar ra. datang, dan ember itu menjadi lebih besar, dan beliau ra. juga mengambil air dari sumur itu dengan sekuat tenaga.

Hudhur aba. bersabda bahwa Hadhrat Abu Bakar ra. juga melihat mimpi yang di dalamnya beliau ra. mengenakan jubah Yaman yang memiliki dua noda di atasnya. Ketika beliau ra. menceritakan mimpinya itu kepada Nabi Muhammad saw., beliau saw. menafsirkan jubah Yaman berarti bahwa Hadhrat Abu Bakar ra. akan memiliki keturunan yang banyak dan dua noda berarti bahwa beliau ra. akan menjadi penguasa atas orang-orang selama dua tahun.

Kesederhanaan Hadhrat Abu Bakar ra.

Hudhur aba. bersabda, meskipun telah menjadi khalifah dan memiliki wewenang terhadap semua uang yang ada, namun, beliau ra. sama sekali tidak mengambil sedikit pun dari harta kekayaan baitul maal tersebut untuk kepentingan dirinya sendiri. Sebaliknya, Hadhrat Abu Bakar ra. justru memutuskan untuk menjual beberapa pakaian agar memiliki cukup uang untuk membeli makanan. Ketika Hadhrat Umar ra. mengetahui hal ini, beliau ra. berkata bahwa sebaiknya Hadhrat Abu Bakar ra. mengambil uang tunjangan dari Baitul Maal. Meskipun Hadhrat Abu Bakar ra. ragu-ragu, namun Hadhrat Umar ra. mengatakan bahwa Al-Qur'an telah mengizinkannya sehingga beliau ra. tidak perlu merasa segan. Jadi, tunjangan telah ditetapkan untuk beliau ra, akan tetapi jumlahnya sangat sedikit, hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok beliau ra. saja, seperti halnya makanan dan juga pakaian.

Lima Tantangan yang Dihadapi oleh Hadhrat Abu Bakar ra.

Hudhur aba. bersabda, sejak awal masa kekhalifahan beliau ra., Hadhrat Abu Bakar ra. harus menghadapi lima tantangan, yaitu:

  1. Kesedihan atas wafatnya Nabi Muhammad saw.
  2. Kekhawatiran akan terjadinya perpecahan di antara orang-orang Muslim.
  3. Keberangkatan pasukan Hadhrat Usman ra.
  4. Permasalahan mengenai orang-orang Muslim yang menolak membayar zakat.
  5. Orang-orang yang secara terang-terangan menyatakan murtad dari Islam, termasuk para pendakwa kenabian palsu.

Persamaan dengan Nabi Yusya as.

Akan tetapi, Allah Ta’ala menganugerahi taufik kepada beliau ra. untuk mengatasi semua tantangan-tantangan tersebut. Hadhrat Masih Mau'ud as. menyamakan Hadhrat Abu Bakar ra. dengan Nabi Yusya bin Nun as. yaitu penerus/khalifah pertama dari Nabi Musa as. Seperti halnya Nabi Yusya as. yang meneruskan misi dari Nabi Musa as. setelah kewafatan beliau, demikian pula Hadhrat Abu Bakar ra. yang meneruskan misi dari Nabi Muhammad saw. setelah kewafatan beliau saw.

Hudhur aba. bersabda bahwa beliau aba. akan melanjutkan kembali topik berkenaan dengan hal ini di dalam khutbah yang akan datang.

Permohonan Doa Atas Adanya Ancaman Perang Nuklir

Hudhur aba. meminta kita untuk senantiasa berdoa, mengingat situasi yang terjadi di dunia saat ini dan juga perang yang semakin memburuk. Sekarang, bahkan ada ancaman perang nuklir, sebagaimana yang telah Hudhur aba. peringatkan sebelumnya, yang akan berakibat terjadinya bencana yang sangat mengerikan serta berdampak kepada generasi-generasi yang akan datang. Hanya Allah Ta’ala-lah yang dapat memberikan akal yang sehat kepada orang-orang ini.

Hudhur aba. bersabda bahwa di masa-masa sekarang ini, harus ada perhatian yang semakin meningkat terhadap pembacaan shalawat kepada Nabi Muhammad saw. dan juga istighfar (memohon ampunan). Hudhur aba. berdoa, semoga Allah Ta’ala mengampuni kesalahan-kesalahan kita, dan memberikan akal sehat kepada para pemimpin-pemimpin dunia.

Hudhur aba. bersabda bahwa di saat-saat yang khusus seperti ini, Hadhrat Masih Mau'ud as. menasehati anggota Jemaat untuk berulang kali membaca doa berikut ini:

... رَبَّنَاۤ اٰتِنَا فِی الدُّنۡیَا حَسَنَۃً وَّفِی الۡاٰخِرَۃِ حَسَنَۃً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿۲۰۲﴾

“Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia ini dan berilah kami kebaikan di akhirat. Dan, peliharalah kami dari azab api.” (QS. Al-Baqarah 2:202)

Hudhur aba. bersabda bahwa Hadhrat Masih Mau'ud as. juga menasihati agar doa ini harus senantiasa dibaca, terutama ketika berdiri setelah ruku' di dalam shalat-shalat kita. Hudhur aba. bersabda, di masa-masa sekarang ini, kita pun harus mengamalkannya, sesuai dengan nasihat dari Hadhrat Masih Mau’ud as. tersebut.

Shalat Jenazah

Hudhur aba. bersabda bahwa beliau aba. akan memimpin shalat jenazah ghaib bagi anggota yang telah wafat berikut ini:

Abul Farj al-Husni dari Suriah yang wafat pada 13 Februari 2022. Almarhum berusia lima belas tahun ketika almarhum mendengar bacaan Al-Qur'an untuk pertama kalinya di radio, yang sangat menyentuh hatinya. Almarhum kemudian meminta pamannya untuk mengajarkannya lebih banyak lagi ilmu tentang Allah Ta’ala. Pamannya itu lalu memberinya beberapa literatur Hadhrat Masih Mau'ud as., yang kemudian dibaca oleh almarhum. Setelah itu, almarhum pun ba’at kepada Hadhrat Masih Mau'ud as. Almarhum adalah sosok yang sangat tulus dan memiliki banyak sekali sifat-sifat kebajikan dalam dirinya. Almarhum mendapatkan karunia untuk bertemu dengan Khalifah ketiga, keempat dan kelima dari Jemaat ini. Almarhum juga mendapatkan karunia untuk mengunjungi Rabwah dan belajar bahasa Urdu, serta mengunjungi Qadian dan naik ke puncak Minaratul Masih. Almarhum adalah pribadi yang sangat bijaksana dan memiliki firasat-firasat keruhaniaan. Almarhum melihat banyak sekali mimpi, yang di kemudian hari menjadi kenyataan. Almarhum mempelajari buku-buku Hadhrat Masih Mau'ud as. dengan sangat tekun. Almarhum juga seorang yang sangat rendah hati. Hudhur aba. berdoa semoga Allah Ta’ala menganugerahi maghfirah, rahmat dan kasih sayang-Nya kepada almarhum, mengangkat derajatnya, serta menerima segala ibadah-ibadahnya.

Catatan

Diringkas oleh: The Review of Religions

Diterjemahkan oleh: IHR