Macam-macam Ulama

Revisi per 16 Februari 2022 10.58 oleh Isa (bicara | kontrib) (→‎Referensi)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Ulama (bahasa Arab: العلماء, 'orang-orang berilmu, para sarjana'‎) adalah pemuka agama atau panutan agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah agama maupun masalah sehari-hari yang diperlukan, baik dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan. Makna sebenarnya dalam bahasa Arab adalah ilmuwan atau peneliti.

Arti ulama tersebut mengalami perubahan ketika diserap kedalam Bahasa Indonesia, yang maknanya adalah sebagai orang yang ahli dalam ilmu agama Islam saja.

Pengertian ulama secara harfiyah adalah “orang-orang yang memiliki ilmu”.

Istilah ulama sejatinya merujuk kepada seseorang yang menguasai ilmu agama, berakhlak baik, menjadi teladan hidup bagi masyarakat, dan mempunyai sifat-sifat mulia. Ulama senantiasa mengisi sendi-sendi kehidupan dengan akhlak sehingga berdampak kepada kebaikan secara luas. Keberadaan ulama sejatinya mendatangkan rahmat dan bukan laknat.

Rasulullah (saw) membagi ulama menjadi dua bentuk, yaitu:

1. Ulama Mereka

Dalah satu riwayat dijelaskan,

وَعَنْ عَلِيٍّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يَبْقَى مِنَ الْإِسْلَامِ إِلَّا اسْمُهُ وَلَا يَبْقَى مِنَ الْقُرْآنِ إِلَّا رَسْمُهُ مَسَاجِدُهُمْ عَامِرَةٌ وَهِيَ خَرَابٌ مِنَ الْهُدَى عُلَمَاؤُهُمْ شَرُّ مَنْ تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ مِنْ عِنْدِهِمْ تَخْرُجُ الْفِتْنَةُ وَفِيهِمْ تَعُودُ» . رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ فِي شُعَبِ الْإِيمَان

Artinya: Dari Ali (ra), Rasulullah (saw) bersabda: "Akan datang suatu zaman pada manusia, ketika tiada yang tersisa dari Islam kecuali hanya tinggal namanya saja, dan tiada yang tersisa dari Al Qur'an kecuali hanya tinggal tulisannya saja, masjid-masjid mereka begitu megah penuh orang, tetapi kosong dari petunjuk. Ulama mereka adalah seburuk-buruk makhluk di kolong langit, dari mereka keluar fitnah dan (fitnah itu) kepada mereka juga kembalinya." (HR Al Baihaqi) [1] [2]

Dari hadits tersebut ada orang yang berilmu agama, namun akhlaknya tidak sesuai dengan akhlak Rasulullah (saw). Oleh karena itu Rasulullah (saw) alih-alih menyebut "ulama umatku" namun beliau menyebutnya sebagai "ulama mereka". Hal ini menandakan beliau (saw) tidak mau mengakui mereka sebagai pengikut/pewaris beliau (saw).

2. Ulama Rasulullah (saw)

Allah Ta'ala berfirman berkenaan dengan ulama,

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَآبِّ وَالۡاَنۡعَامِ مُخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ کَذٰلِکَ ؕ اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ غَفُوۡرٌ ﴿۲۹﴾

"Dan demikian juga, di antara manusia, binatang buas, dan binatang ternak ada bermacam-macam warnanya. Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya adalah ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun." (QS Faathir, 35:29)

Ungkapan, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama,” memberikan bobot arti kepada pandangan, bahwa ketiga kata itu menggambarkan tiga golongan manusia, yang di antara mereka itu hanya mereka yang dikaruniai ilmu, takut kepada Tuhan. Akan tetapi, di sini ilmu itu tidak seharusnya selalu berarti ilmu keruhanian, akan tetapi juga pengetahuan hukum alam. Penyelidikan yang seksama terhadap alam dan hukum-hukumnya niscaya membawa orang kepada makrifat mengenai kekuasaan Maha Besar Tuhan dan sebagai akibatnya merasa kagum dan takzim terhadap Tuhan.

Jadi dari ayat diatas, salah satu ciri ulama adalah orang yang takut kepada Allah swt.

أَمَا قَدِمْتَ لِتِجَارَةٍ قَالَ لَا قَالَ مَا جِئْتُ إِلَّا فِي طَلَبِ هَذَا الْحَدِيثِ قَالَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَبْتَغِي فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضَاءً لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانُ فِي الْمَاءِ وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Seseorang dari Madinah mendatangi Abu Darda` di Damaskus, Abu Darda` bertanya; "Apa yang membuatmu datang kemari wahai saudaraku?" Orang itu menjawab: "Satu hadits yang telah sampai kepadaku bahwa anda menceritakannya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam." Abu Darda` bertanya; "Bukankah kau datang karena keperluan lain?" Orang itu menjawab; "Tidak." Abu Darda` bertanya; "Bukankah kau datang untuk berniaga?" Orang itu menjawab: "Tidak, aku datang hanya untuk mencari hadits tersebut." Abu Darda` berkata; "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan menuntunnya menuju surga dan para malaikat akan meletakkan sayap-sayapnya karena senang kepada pencari ilmu, sesungguhnya orang berilmu itu akan dimintakan ampunan oleh (makhluq) yang berada di langit dan di bumi hingga ikan di air, keutamaan orang yang berlilmu atas ahli ibadah laksana keutamaan rembulan atas seluruh bintang, sesungguhnya ulama adalah pewaris pada nabi dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanya mewariskan ilmu, maka siapa yang mengambilnya berarti ia telah mengambil bagian yang banyak." (H.R. Tirmidzi) [3]

Rasulullah (saw) bersabda,

اِتَّبِعُوا الْعُلَمَاءَ ، فَإِنَّهُمْ سُرُجُ الدُّنْيَا ، وَمَصَابِيْحُ الْآخِرَةِ

“Ikutilah para ulama karena sesungguhnya mereka adalah pelita-pelita dunia dan lampu-lampu akhirat.” (HR Ad-Dailami) [4]

Kriteria ulama yang harus diikuti tentu saja mereka yang takut kepada Allah (bertaqwa), yang mewarisi akhlak Nabi Muhammad dan mampu mewujudkan kehidupan yang lebih baik dengan ilmu-ilmu yang dimilikinya, tidak membuat kerusakan di muka bumi, mampu hidup berdampingan dengan sesama makhluk Allah SWT dan menjadi cahaya penerang/petunjuk bagi kehidupan di dunia maupun di akhirat. Namun, saat ini sebagian masyarakat masih ada yang terjebak dengan simbol-simbol agama yang melekat melalui pakaian.

Referensi

  1. Misykat/Jilid I /kitab Al-‘Ilm/hadits no.276/Dar al-kutub al-‘ilmiyah/Beirut-Libanon/2003M
  2. Mishkat al-Masabih 276
  3. Hadits Jami' At-Tirmidzi, Kitab Ilmu, Bab Keutamaan berilmu saat menunaikan ibadah
  4. Al-Jamii'ush-Shoghiir hlm. 94