Puasa di Masa Pandemi Covid-19

Dari Isa Mujahid Islam
Revisi per 15 Maret 2022 13.52 oleh Isa (bicara | kontrib) (Membuat artikel rintisan)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Pandemi Covid-19 berdampak sangat dalam di seluruh sisi kehidupan, bukan saja di level nasional namun global, bukan cuma orang tua namun di seluruh rentang usia. Walaupun di bulan puasa masih ada dalam keadaan pandemi yang penuh dengan kesulitan, namun tetap saja ada manfaat dan hikmah yang Allah Ta’ala bukakan kepada kita. Huzur V atba bersabda,

Ambillah manfaat sebanyak-banyaknya dari suasana yang Allah Ta’ala berikan pada kita ini. Suasana yang diciptakan oleh wabah ini di rumah rumah kita, seperti yang telah saya katakan, hendaknya menarik perhatian kita untuk lebih baik lagi

Belakangan ini dikarenakan terjadinya pandemi, banyak orang bertanya, “Dengan berpuasa tenggorokan akan menjadi kering, kemungkinan untuk sakit pun akan semakin besar, apakah harus berpuasa atau kah tidak?”

Saya tidak memberikan fatwa atau keputusan yang bersifat umum mengenai hal ini, saya secara umum menjawab, kalian harus melihat keadaan kalian masing-masing lalu ambillah keputusan. Dengan hati yang bersih dan dengan menegakkan ketakwaan, ambillah fatwa dari hati kalian. Petunjuk Al-Quran sangat jelas bahwa jika kalian sakit maka janganlah berpuasa. Meninggalkan puasa dengan alasan kemungkinan menjadi sakit adalah suatu kekeliruan.

Singkatnya, setiap orang memiliki keadaan yang berbeda-beda, dalam situasi ini hendaknya sebisa mungkin memperhatikan hal ini. Lihatlah keadaan masing-masing dan ambillah keputusan pribadi, mintalah fatwa kepada hati kita masing-masing.

Walhasil, dengan memperhatikan berbagai pendapat yang berbeda, kesimpulannya adalah tidak ada kerugiannya tetap berpuasa. Ya, jika ada sedikit saja keraguan (karena adanya penyakit atau gejala-gejala Covid-19), maka tinggalkan puasa. [1]

Selain itu, Apa saja nasehat-nasehat khalifah dan Amir Nasional ketika pandemi covid-19 ini agar kita tetap bertahan? Simak uraian berikut.

Fokus kepada Ibadah

Huzur V (atba) menasehatkan,

(Ketika ada perintah lockdown) Kita pun hendaknya tetap meningkatkan upaya-upaya untuk tetap melaksanakan shalat berjamaah dan daras (di rumah). Ajarkanlah hal-hal mendasar kepada anak-anak. [1]

Amir Nasional Jemaat Ahmadiyah Indonesia memberikan arahan ibadah di bulan Ramadhan 1442 H/2021 M, yaitu:

  1. Sebagaimana anjuran pemerintah bahwa Shalat Fardhu lima waktu, Shalat Jum’at, Shalat Tarawih, Tadarus Al-Qur’an, iktikaf dan Shalat ‘Idul Fitri dilaksanakan dengan pembatasan. Jumlah kehadiran paling banyak 50 persen dari kapasitas Masjid dan atau Shalat Center dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat.
  2. Pengurus dan atau satgas yang ditunjuk memastikan penerapan protokol kesehatan tersebut, seperti:
    • Melakukan disinfektan secara teratur di area masjid.
    • Menyediakan sarana cuci tangan dan atau hand sanitizer di pintu masuk masjid.
    • Memeriksa suhu dan memastikan jamaah selalu menggunakan masker.
    • Menjaga jarak shaf minimal 1,5 meter.
    • Tidak berkerumun sebelum dan setelah shalat berjamaah.
  3. Jika dikarenakan kapasitas Masjid dan atau Shalat Center tidak memungkinkan untuk menampung jamaah, maka pengurus harus mengaturkan agar pelaksanaannya dilaksanakan di rumah masing- masing.
  4. Memperbanyak dan meningkatkan kualitas ibadah serta senantiasa memanjatkan do’a-do’a untuk keselamatan dan keamanan bangsa serta untuk kemajuan jemaat. [2]

Mengintrospeksi Diri

Huzur V (atba) menjelaskan,

…Setelah menerima Hadhrat Masih Mau’ud (as), kita harus jujur bertanya pada diri sendiri apakah kondisi akhlak kita sudah sedemikian rupa sehingga kita memenuhi tanggung jawab kepada Allah? Apakah kita telah memenuhi hak-hak manusia semata-mata karena Allah? Atau apakah kita masih perlu memperbaiki diri sendiri dan meningkatkan kecintaan kita terhadap sesama di dalam hati kita?” [3]

Melakukan Aksi Sosial

Huzur V (atba) bersabda,

Silahkan bantu (orang-orang yang membutuhkan), namun upaya kehati-hatian pun perlu. Perlu untuk terhindar dari itu semua supaya tidak sampai tertular. Hendaknya kita mengambil pelajaran bahwa siapa saja yang memberikan bantuan, perlu untuk berhati-hati, misalnya saat ini dihimbau untuk menggunakan masker dan yang lain-lainnya. [4]

Di masa pandemi Covid-19, Amir Nasional Jemaat Ahmadiyah Indonesia, H. Abdul Basit menyerukan kepada seluruh anggota Jamaah Muslim Ahmadiyah yang memenuhi kriteria, untuk tetap melakukan aksi sosial seperti donor darah dalam usaha membantu masyarakat yang membutuhkan tentunya dengan tetap mengikuti protokol kesehatan Covid-19 dan PSBB yang ditetapkan pemerintah. [5]

Adapun bagi mereka yang diserahkan tugas memberikan bantuan, banyak sekali yang menjadi sukarelawan dan Khuddamul Ahmadiyah dan lain-lain pun berperan dalam hal ini. Lakukanlah tugas tersebut dengan penuh kehati-hatian dan doa. Janganlah bertindak ceroboh. Janganlah tanpa sebab menjerumuskan diri sendiri pada kebinasaan, karena sikap seperti itu merupakan kebodohan bukan keberanian. Berhati-hatilah. [4]

Saat ini merupakan kesempatan bagi kita untuk mengkhidmati kemanusiaan sesuai dengan yang dinasihatkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud (as) untuk menciptakan gejolak rasa simpati. Inilah saatnya bagi kita untuk memenuhi hak-hak makhluk, dan saatnya untuk meraih kedekatan dengan Allah Ta’ala. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada setiap pedagang, apapun barangnya, supaya bukan mengeruk keuntungan yang tidak perlu, malahan dapat menjalankan usahanya disertai gejolak rasa simpatik dalam keadaan saat ini. [4]

Aksi-aksi sosial lainnya seperti memberikan bantuan sembako, pemberian masker gratis, bantuan obat-obatan, bantuan medis, bantuan ekonomi langsung dll bisa menjadi salah satu cara memaknai ibadah Ramadhan.

Tetap Produktif dalam Mendalami Agama

Huzur juga menyampaikan,

  • Sekalipun aturan pemerintah mengharuskan kita tinggal di rumah, kita tetap dapat meraih manfaat ruhani dan jasmani karenanya, dapat meningkatkan wawasan keilmuan kita, bahkan saat ini risalah Al-Hakam menampilkan berbagai pandangan orang-orang perihal bagaimana kita mengisi waktu di rumah dalam kondisi seperti ini. [6]
  • Di MTA sangat menarik program-program yang ditayangkan, kita pun hendaknya meluangkan waktu untuk duduk bersama menyimak program tersebut. [6]
  • Anda dapat meningkatkan ilmu pengetahuan bagi diri sendiri dan juga anak anak. [1]

Tetap Melaksanakan Tablig

Huzur V (atba) menjelaskan,

Alhasil, dalam situasi seperti ini di samping kita perlu memperbaiki diri kita, kita pun perlu untuk menyampaikan tabligh kita dengan cara berkesan. Kita perlu mengenalkan Islam kepada dunia lebih dari sebelumnya. Para Ahmadi harus berusaha untuk memberitahu kepada dunia, “Jika kalian menginginkan keselamatan kalian, kenalilah Tuhan yang telah menciptakan kalian. Jika kalian menginginkan kesudahan yang baik, kenalilah Tuhan yang telah menciptakan kalian, karena tujuan yang sebenarnya adalah kehidupan akhirat. Janganlah kalian menyekutukan Dia dengan sesuatu apa pun dan tunaikanlah hak-hak makhluk-Nya.” [7]

Tetap Mentaati Petunjuk Pemerintah

Huzur V (atba) menjelaskan,

  • Petunjuk dari pemerintah untuk kemaslahatan masyarakat seperti yang telah saya katakan tadi, demi menjaga kesehatan kita, harus kita taati sepenuhnya. [6]
  • Ketika wabah-wabah penyakit muncul, mereka dapat menjangkiti siapa saja. Oleh karena itu, setiap orang harus mengambil langkah berhati-hati dan kewaspadaan mencegah. Laksanakanlah petunjuk-petunjuk pemerintah. [7]
  • Orang-orang yang berusia lanjut hendaknya jangan sering keluar rumah dan ini juga adalah himbauan dari pemerintah. Kecuali seseorang memiliki kesehatan yang sangat baik, secara umum hendaknya tetaplah tinggal di rumah. [7]
  • Berhati-hatilah saat datang ke mesjid. Laksanakanlah shalat Jumat di mesjid Jemaat lokal masing-masing. …kecuali jika pemerintah juga memberlakukan larangan untuk berkumpul melaksanakan shalat Jum’at. [7] Muslim Ahmadi yang tinggal di negara-negara yang telah memberlakukan pembatasan kegiatan ibadah, hendaknya tetap melaksanakan shalat Jum’at di rumah masing-masing. [6]

Menjaga Kebersihan dan Kesehatan Pribadi

Huzur V (atba) menasehatkan,

  • Secara umum dokter juga menyarankan supaya memperhatikan juga istirahat kita demi meningkatkan daya tahan tubuh kita. Untuk itu kita perlu tidur yang cukup. Pastikan diri anda sendiri dan juga anak-anak anda tidur cukup. [7]
  • Hindarilah makanan-makanan cepat saji (junk food) dari toko-toko. Dari makanan-makanan seperti ini pun penyakit menyebar. Terutama keripik-keripik yang biasa diberikan oleh orang kepada anak-anak untuk dimakan. Atau makanan-makanan yang mengandung bahan pengawet di dalamnya. Ini berbahaya untuk kesehatan dan harus dihindari. Makanan seperti ini perlahan-lahan melemahkan tubuh manusia. [7]
  • Jagalah kebersihan tangan. Bahkan, jika tidak ada sanitiser, sering-seringlah mencuci tangan. Dan seperti yang telah saya katakan sebelumnya, orang yang melakukan wudhu sekurang-kurangnya lima kali sehari, ia memperoleh kesempatan untuk menjaga kebersihan. [7] …Pastikan tangan dan wajah dalam keadaan bersih. Jika tangan dalam keadaan kotor, jangan sentuhkan ke wajah atau basuh tangan dengan sanitiser. Namun bagi kita sebagai muslim, jika melaksanakan shalat lima waktu dan melakukan wudhu secara rutin, membersihkan hidung dengan air yakni melakukan wudhu dengan baik, maka ini merupakan kebersihan berstandar tinggi… Alhasil, jika kita melakukan wudhu dengan baik, akan menjadi kebersihan jasmani dan setelah wudhu manusia melakukan shalat yang akan menjadi sarana untuk kebersihan ruhaninya. [8]
  • Ketika bersin, tutupilah bersin dengan sapu tangan, baik saat berada di mesjid, ketika berada di rumah maupun secara umum. Atau seperti yang disarankan beberapa dokter, bersinlah ke lengan anda sehingga tetesan tidak menyebar kemana-mana. Bagaimanapun, kebersihan sangatlah penting dan harus diperhatikan ke arah ini. [7]
  • Sebagaimana telah diumumkan oleh pemerintah, kita semua hendaknya menempuh upaya-upaya pencegahan melalui obat homeopathy. (resep) Pertama sebagai tindak pencegahan dan (kedua) sebagai obat. Ini merupakan obat yang memungkinkan, karena tidak bisa kita katakan bahwa resep homeopathy yang diberikan 100% dapat menyembuhkan pasien korona. Virus ini merupakan virus yang belum diketahui, namun resep homeopathy ini resep yang paling memungkinkan dan mendekati diantara resep homeopathy lainnya. Resep tersebut telah diusulkan sesuai dengan jenis penyakitnya. Semoga Allah Ta’ala memberikan potensi penyembuh kedalam obat tersebut. [8]
  • Hadhrat Masih Mau’ud (as) memerintahkan agar benar-benar menjaga kebersihan rumah, berkenaan dengan itu beliau memberikan perintah khusus dan bersabda, “Selain memperhatikan kebersihan rumah, jagalah juga kebersihan pakaian dan selokan-selokan.” [4]

Terapkan Kehati-hatian di Tempat Umum

Huzur V (atba) menasehatkan,

  • Sekarang, sebagaimana telah disampaikan pada Jumat lalu mengenai wabah yang sedang menyebar akhir-akhir ini, yaitu virus corona. Hendaknya untuk itu terus dilakukan upaya kehati-hatian dan ketika datang ke mesjid datanglah dengan berhati-hati. Jika menderita demam dan lain sebagainya, sakit-sakit yang ringan pada tubuh, janganlah pergi ke tempat-tempat umum. Hindarkanlah diri sendiri dan juga orang lain. Berikanlah banyak perhatian pada doa-doa, semoga Allah Ta’ala menyelamatkan dunia dari bala bencana. [9]
  • …perlu juga supaya kita menghindari keramaian. Bagi para jamaah masjid pun hendaknya berhati-hati, jika mengidap demam walaupun ringan, tubuh pegal-pegal, bersin-bersin, flu dan lain-lain hendaknya jangan dulu datang ke masjid. Sebab, masjid pun memiliki hak (kewajiban yang harus ditunaikan) supaya tidak ada orang yang dapat memberikan dampak buruk bagi jamaah lainnya. Hendaknya berhati-hati untuk datang ke masjid bagi mereka yang memiliki penyakit menular apa saja khususnya saat ini. Ketika bersin atau pada hari-hari biasa pun hendaknya ketika bersin tutupi dengan tangan atau menggunakan sapu tangan. [8]
  • Bagi jamaah masjid yang mengenakan kaos kaki, kaos kaki hendaknya diganti setiap hari dan dicuci, jika keluar bau dari kaki atau kaos kaki, maka akan membuat menderita jamaah yang berada di sebelahnya atau jamaah shalat yang berada di belakangnya ketika sujud akan menderita karena baunya. [8]
  • Diperintahkan bahwa Rasulullah bersabda: Setelah memakan makanan yang menimbulkan bau seperti bawang putih, bawang merah dan yang lain-lain, hendaknya jangan ke masjid. Terkadang keluar dari mulut atau mengeluarkan bau dari mulut yang membuat jamaah lain menderita dan juga lingkungan masjid. [8] [10]
  • Begitu juga saat ini dikatakan untuk tidak berjabatan tangan dan ini pun sangat penting, karena tidak ada yang tahu bagaimana tangan seseorang. Meskipun dengan berjabatan tangan jalinan persaudaraan dan kecintaan semakin meningkat, namun saat ini, disebabkan oleh penyakit ini lebih baik kita hindari dulu berjabatan tangan. [8]
  • Begitu juga kita hendaknya menghindari untuk berkunjung ke rumah orang lain demi urusan yang tidak penting. [4]

Berdoa

Huzur V (atba) menasehatkan,

Jalan pemecahan yang terakhir adalah doa. Kita harus berdoa, semoga Allah Ta’ala melindungi kita semua dari keburukan penyakit ini (covid-19). Berdoalah juga secara khusus untuk para Ahmadi yang telah terkena penyakit ini karena alasan tertentu atau dokter melihat ada indikasi bahwa mereka terkena virus ini, atau mereka yang terkena penyakit lainnya, apa pun itu, doakanlah mereka semua. …Virus menyerang mereka yang dikarenakan suatu penyakit tertentu keadaan mereka menjadi lemah, doakanlah semoga Allah Ta’ala melindungi mereka. Secara umum, berdoalah untuk setiap orang, semoga Allah Ta’ala melindungi dunia dari dampak buruk wabah ini. Semoga Dia memberikan kesehatan yang sempurna kepada semua orang yang sakit. [7]

Secara khusus para Ahmadi hendaknya menaruh perhatian terhadap doa-doa dan memperbaiki keadaan ruhani masing masing dan doakan juga dunia semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada dunia dan memberikan taufik agar alih alih terjerumus dalam duniaw i dan melupakan Allah ta’ala, semoga mereka menjadi orang-orang yang mengenal Tuhan yang menciptakannya. [8]

Kita hendaknya mendoakan secara umum untuk diri sendiri, untuk orang terkasih, kerabat, untuk jemaat dan juga untuk kemanusiaan. Di dunia ini banyak sekali orang yang diantaranya ada juga Ahmadi yang tidak memiliki sarana untuk pencegahan, pengobatan, makanan dan minuman, semoga Allah Ta’ala mencurahkan rahmat-Nya kepada mereka dan juga kita. Kita berupaya melalui jemaat untuk menyediakan pangan dan keperluan lainnya kepada para Ahmadi, namun meskipun demikian mungkin saja masih ada yang kurang. Bahkan di sini kita berusaha sebisa mungkin untuk dapat memberikan sarana pengobatan, makanan dan juga kemudahan lainnya kepada orang luar Ahmadi yang memerlukan. Kita melakukan pengabdian ini sama sekali tanpa pamrih, murni didasari semangat menolong. [4]

Penutup

Huzur V (atba) menasehatkan,

“Di masa-masa saat ini tingkatkanlah doa dan ibadah, karena melalui doa yang tulus kita dapat memperoleh karunia-karunia dari Allah Taala dan mendapatkan kemajuan rohani dan jasmani. Inilah yang diajarkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud (as) kepada kita, bahwa sekalipun dalam kondisi seperti ini, seperti yang kita hadapi saat ini, sangat penting bagi kita untuk memohon ampunan dari Allah Taa’ala, menyucikan hari kita dan menyibukkan diri dalam amal saleh. Allah Ta’ala telah menjadikan doa sebagai sarana yang mujarab untuk kita amalkan yang dengan perantaraannya kita harus berupaya masuk ke dalam perlindungan kepada Allah Ta’ala.” Semoga Allah Ta’ala segera menyingkirkan pandemi di dunia ini dan semoga masyarakat dunia dapat memenuhi kewajiban pada kemanusiaan dan semoga mereka dapat kembali menyadari Tuhan Yang Mahakuasa. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita semua. [6]

Catatan Kaki