Mengkhidmati Agama

Dari Isa Mujahid Islam
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Ayat Pertama

Allah Ta'ala berfirman,

لَنۡ تَنَالُوا الۡبِرَّ حَتّٰی تُنۡفِقُوۡا مِمَّا تُحِبُّوۡنَ ۬ؕ وَمَا تُنۡفِقُوۡا مِنۡ شَیۡءٍ فَاِنَّ اللّٰہَ بِہٖ عَلِیۡمٌ ﴿۹۳﴾

Kamu tidak akan pernah mencapai kebaikan sempurna, 438 hingga kamu menginfakkan sebagian dari apa yang paling kamu cintai, dan apa pun yang kamu infakkan di jalan Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentang itu (QS Ali 'Imran 3:93)

Tafsir 438. Untuk mencapai keimanan sejati, yang merupakan inti segala kebajikan yang sempurna dan merupakan bentuk tertinggi kebaikan, orang harus siap-sedia mengorbankan segala sesuatu yang disayanginya. Taraf tertinggi kebajikan yang sempurna dapat dicapai hanya dengan membelanjakan di jalan Allah apa-apa yang paling dicintainya. Akhlak luhur (Birr) tidak dapat dicapai tanpa menyerap jiwa pengorbanan yang sebenarnya.

Seberapa besar kecintaan untuk mengkhidmati agama dalam diri kita dan apakah ada antusiasme dalam diri kita untuk melakukan itu? Kemudian Hazrat Aqdas Masih Mauud as besabda pada satu kesempatan, Di dunia ini, manusia sangat mencintai kekayaan, oleh karena itu tertulis dalam ilmu Tabir mimpi bahwa jika seseorang bemmimpi melihat dirinya mengeluarkan hatinya dan memberikannya kepada seseorang, maka itu berarti kekayaan. Inilah alasan mengapa untuk meraih ketakwaan dan keimanan hakiki difirmankan

لَنۡ تَنَالُوا الۡبِرَّ حَتّٰی تُنۡفِقُوۡا مِمَّا تُحِبُّوۡنَ ۬ؕ

Kamu tidak akan pernah mencapai kebaikan sempurna, hingga kamu menginfakkan sebagian dari apa yang paling kamu cintai, karena sebagian besar dari kasih sayang dan perlakuan terhadap makhluk Tuhan menyiratkan perlunya membelanjakan harta, dan kasih sayang untuk umat manusia dan makhluk Tuhan adalah salah satu komponen keimanan, yang tanpanya keimanan tidak sempurna dan kokoh. Sebelum seseorang mempersembahkan pengorbanan, bagaimana ia bisa bermanfaat bagi orang lain? untuk memberikan manfaat dan kasih sayang kepada orang lain pengorbanan diperlukan, dan dalam ayat ini,

لَنۡ تَنَالُوا الۡبِرَّ حَتّٰی تُنۡفِقُوۡا مِمَّا تُحِبُّوۡنَ ۬ؕ

Diberikan ajaran dan petunjuk untuk berkorban.[1]

Hadhrat Masih Mau'ud (as) ini, beliau menyatakan: "Saya katakan lagi dan lagi, Allah sama sekali tidak membutuhkan pengkhidmatan kalian, tetapi merupakan karunia besar bagi Anda bahwa Dia telah memberi Anda kesempatan untuk mempersembahkan pengorbanan." [1]

Ayat Kedua

Allah Ta'ala berfirman,

وَنَبِّئۡہُمۡ عَنۡ ضَیۡفِ اِبۡرٰہِیۡمَ ﴿ۘ۵۲﴾ اِذۡ دَخَلُوۡا عَلَیۡہِ فَقَالُوۡا سَلٰمًا ؕ قَالَ اِنَّا مِنۡکُمۡ وَجِلُوۡنَ ﴿۵۳﴾

Dan beritahulah mereka tentang tamu Ibrahim. Ketika mereka itu masuk kepadanya dan berkata, “Selamat sejahtera atasmu.” Ia menjawab, ”Kami sungguh merasa takut kepadamu.” 1505 (QS Al-Hijr [15]: 52-53).

Tafsir 1505. Barangkali tanda-tanda kesedihan dan dukacita nampak pada wajah tamu-tamu Nabi Ibrahim As, sebab mereka telah membawa berita tentang bencana yang sedang mengancam itu. Nabi Ibrahim As memahami hal itu dari kecemasan yang nampak pada wajah mereka atau dari penolakan mereka untuk menyantap makanan yang dihidangkan kepada mereka (QS.11: 71)

Al-Quran secara khusus mengatakan pentingnya pengkhidmatan. Kitab itu menjelaskan mengenai pengkhidmatan Hadhrat Ibrahim as dimana disebutkan tentang kedudukan dan kualitas beliau as dalam berkhidmat. Tuan rumah yang melayani para tamu tanpa pamrih dan melakukannya dengan segera setelah menerima tamu akan dimuliakan oleh Tuhan, karena mereka mengerti bahwa dengan mengkhidmati tamu mereka akan mendapatkan ridha Tuhan. [2]

Para sahabat Hadhrat Rasulullah saw menunjukkan contoh pengkhidmatan kepada tamu yang begitu luar biasa sehingga layak ditulis dengan tinta emas. Hadhrat Rasulullah saw meminta seorang sahabat untuk menjamu seorang tamu beliau dan memberi makan tamu tersebut. Kemudian, sesuai dengan perintah Hadhrat Rasulullah saw, sahabat tersebut membawa tamu itu ke rumahnya. Sang isteri berkata bahwa hanya ada tersisa sedikit makanan di rumah dan itupun untuk anak-anak. Sang suami dan isteri kemudian berdiskusi dan kemudian menidurkan anak-anak mereka dengan sesuatu cara. Ketika makanan disajikan kepada tamu itu, lampu dimatikan dan di dalam kegelapan, sang tuan rumah berpura-pura makan sehingga tamu itu makan dengan lahapnya tanpa mengetahui bahwa tuan rumah sebenarnya tidak memakan makanan apapun. Dengan cara ini, tamu itu tidak mengetahui bagaimana penerimaan tamu umtuknya telah disiapkan oleh tuan rumah dan tamu itu makan dengan tenang. Pagi harinya, ketika sahabat tersebut datang ke hadapan Hadhrat Rasulullah saw, beliau saw bersabda bahwa Allah Ta’ala pun sampai tersenyum melihat perbuatan yang dilakukannya tadi malam. [3] [4]

Di satu waktu, ada banyak tamu yang datang sehingga bahkan isteri beliau (Hadhrat Amma Jan ra.) merasa khawatir karena memikirkan dimana para tamu itu akan tinggal dan bagaimana pengaturan terhadap mereka dapat dibuat. Saat itu, Hadhrat Masih Mau’ud as menceritakan sebuah kisah kepada isteri beliau.

Seorang musafir kemalaman di sebuah hutan. Malam itu begitu gelap. Tidak ada desa di sekitarnya. Tidak ada tempat, desa dimana dia bisa pergi dan menginap. Musafir yang malang itu kemudian bersandar di sebuah pohon untuk melewati malam tersebut. Ada sepasang burung yang berada di atas pohon itu. Sepasang burung itu kemudian berdiskusi dan memutuskan bahwa orang yang bersandar di bawah sarang mereka itu adalah tamu mereka sehingga merupakan kewajiban mereka untuk mengkhidmatinya. Lalu bagaimana cara mereka mengkhidmati musafir tersebut? Pertama, mereka berfikir bahwa cuaca malam ini sangat dingin sehingga mereka harus menyediakan sesuatu yang dapat dibakar untuk membuat sang musafir itu hangat. Tetapi, mereka tidak mempunyai apa-apa. Mereka kemudian berfikir dan memutuskan bahwa mereka bisa membuang dan menjatuhkan sarang mereka ke bawah supaya musafir itu bisa membakarnya. Lalu, burung itu kemudian melempar sarangnya ke bawah. Dengan membuat api dari dedaunan dan ranting dari sarang burung itu, tamu tersebut dapat membuat api dan menghangatkan dirinya sendiri. Setelah itu, burung-burung itu kemudian berfikir lagi bahwa mereka tidak memiliki apa-apa untuk memberi makan sang musafir itu. Mereka memutuskan untuk menjatuhkan diri mereka sendiri ke bara api tersebut sehingga setelah mereka terpanggang di bara api, sang musafir dapat memakan mereka. Dengan begitu, burung-burung tersebut telah menyediakan makanan untuk sang tamu.[3]

Ayat Ketiga

Allah Ta'ala berfirman,

قُلۡ اِنَّ صَلَاتِیۡ وَنُسُکِیۡ وَمَحۡیَایَ وَمَمَاتِیۡ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿۱۶۳﴾ۙ لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ وَبِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَاَنَا اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿۱۶۴﴾

Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, pengorbananku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam; 939, Tidak ada sekutu bagiNya. Dan dengan itu aku diperintahkan, dan akulah orang pertama yang berserah diri. (QS Al An'aam [6]:163-164)

Tafsir 939: Shalat, korban, hidup, dan mati meliputi seluruh bidang amal perbuatan manusia; dan Rasulullah Saw diperintah untuk menyatakan bahwa semua segi kehidupan di dunia ini dipersembahkan oleh beliau kepada Allah Swt, semua amal ibadah beliau dipersembahkan kepada Allah Swt, semua pengorbanan dilakukan beliau untuk Dia; seluruh kehidupan beliau persembahkan untuk berbakti kepada-Nya, maka bila di jalan agama beliau mendapat kematian, itu pun guna meraih keridhaan-Nya.

Hadhrat Khalifatul Masih V (atba) bersabda, Saya senantiasa berdoa dan selalu kupanjatkan doa ini tanpa putus bahwa saya tidak memerlukan anak keturunan jika mereka tidak menjadi orang yang mengkhidmati agama, dan saya berdoa, semoga Allah Ta’ala menganugerahkan taufik doa ini sampai akhir nafasku.[2]

Adalah tidak mengapa bahwa orang-orang bekerja di berbagai sektor pemerintahan untuk menutupi keperluan-keperluan Jemaat. Namun, mereka hendaknya membuktikan dengan keikhlasan mereka berupa keyakinan bahwa mereka menempati pekerjaan duniawi ini bukan untuk hawa nafsu pribadinya sendiri, melainkan demi Allah Ta’ala semata. Artinya, mereka hendaknya setiap saat siap untuk berangkat kapan saja agama memerlukan mereka untuk datang, mereka meninggalkan segala-galanya dan datang untuk mengkhidmati agama.[2]

Ringkasnya, bersamaan dengan mengkhidmati agama, kita hendaknya tidak menganggap kita sedang berkorban. Melainkan, kita hendaknya menganggap itu merupakan ihsaan Allah Ta’ala bahwa Dia sedang menganugerahkan kepada kita pekerjaan bagi agama-Nya. Jika kalian tidak memahami hakikat ini, jika kalian tidak dapat menanggung diri menjadi faqir demi agama, jika kalian tidak dapat merasa bahagia meminta-minta demi agama, jika kalian tidak menganggap pengkhidmatan sebagai tugas yang lebih mulia daripada kerajaan seluruh dunia, maka iman sebesar biji sawi pun dalam diri kalian tidak dapat dianggap ada.[2]

Jika agama merupakan perkara yang berharga, jika agama milik Tuhan, maka manakala seorang penyeru dari Tuhan memanggil, “Ayolah, kita berkumpul pada agama Ilahi!”, maka orang yang mengatakan labbaik (siap!) atas seruan tersebut tidak melakukan sesuatu pengorbanan, melainkan dia mendapatkan bagian dari ihsan (anugerah kebaikan) Allah Ta’ala, kehalusan dan kemuliaan-Nya. Jika dia menganggap, walaupun hanya satu menit saja, bahwa dia sedang berkorban, tak ragu lagi adanya kemunafikan dalam dirinya. Oleh karena itu, jika seorang diantara kalian berpikir sedang berkorban ketika mengkhidmati agama, dia tidak memiliki iman. Lebih baik baginya menjauh dari jalan pengkhidmatan. Namun, jika siapa yang dianggap hina oleh dunia, kalian anggap sebagai terhormat. Siapa yang dianggap pengangguran oleh dunia, kalian anggap sebagai aktif bekerja dan apa yang dianggap oleh dunia sebagai pengorbanan, kalian memahaminya sebagai anugerah; barulah kalian dapat disebut orang beriman sejati.[2]

Sungguh, pekerjaan dan tanggung jawab kita yang terpikul di pundak kita perihal pengkhidmatan agama demikian sangat agung, kendatipun bersamaan dengan itu saya sangat menyayangkan bahwa hati kita tidak dapat membayangkannya sejauh mana. Saya melihat, orang-orang yang aktif berkhidmat demi agama beranggapan bahwa mereka telah melakukan pengorbanan dan bersamaan dengan itu pengorbanan tersebut dianggap perkara yang lebih mulia sebagaimana tadi telah saya jelaskan. Jika seseorang bekerja di jalan agama adalah pengorbanan, maka hal itu berarti agama itu adalah hal yang lebih hina dibanding orang tersebut yang telah melakukan pengorbanan di jalan agama. Padahal kenyataannya jika kita menyangka walau dalam sedetik saja bahwa kita mempersembahkan pengorbanan di saat kita bekerja demi agama, maka sesungguhnya kita mahrum (luput) dari keimanan dan bashirah (pandangan kerohanian).[2]

Hadhrat Masih Mau'ud (as) juga bersabda, "Kalian hendaknya memberikan sebagian dari harta kalian di jalan agama untuk mengkhidmati agama, barulah kemudian keimanan yang sejati dapat diketahui." [5]

Ayat Ketiga

Allah Ta'ala berfirman,

فَتَعٰلَی اللّٰہُ الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ وَلَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ ۫ وَقُلۡ رَّبِّ زِدۡنِیۡ عِلۡمًا ﴿۱۱۵﴾

Maka Mahatinggi Allah, Raja Yang Benar. Dan janganlah engkau tergesa-gesa membaca AlQur’an sebelum pewahyuannya dilengkapkan kepada engkau, melainkan katakanlah, “Wahai Tuhan-ku! Tambahkanlah kepadaku ilmu.” 1855 (QS Thaha [20]:115)

Tafsir 1855. Rasulullah Saw diriwayatkan pernah bersabda, “Carilah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina.” (Shagir, jilid I). Di tempat lain dalam Al-Qur’an ilmu telah dilukiskan sebagai “Karunia Allah yang sangat besar” (QS.2:270 dan QS.4:114). Ilmu itu ada dua macam:

(a) ilmu yang dianugerahkan kepada manusia dengan perantaraan wahyu dan yang telah mencapai kesempurnaan dalam wujud Al-Qur’an.

(b) Ilmu yang didapatkan oleh manusia dengan usaha dan jerih-payahnya sendiri.

Hadhrat Masih Mau'ud (as) bersabda, “Jadi, sekarang ini perlu raihlah ilmu-ilmu modern dengan bertujuan untuk mengkhidmati agama dan meninggikan kalimat Allah.” (Raihlah ilmu-ilmu pengetahuan dan teknologi modern untuk digunakan bagi penyebarluasan agama.) “Dan raihlah itu dengan upaya dan kerja keras.” (Rajin-rajinlah dalam meraih ilmunya. Majukanlah bidang sains. Pergilah melakukan riset. Secara khusus saya (Hudhur V atba) berkata kepada para mahasiswa Ahmadi saat ini, ‘Berusahalah mengarah pada hal itu. Ini juga adalah sarana untuk tabligh dan sarana untuk menyebarluaskan kebaikan-kebaikan. Tatkala ilmu telah diraih, ilmu dunia adalah ilmu modern saat ini, ilmu sains, bilamana itu semua telah diraih maka akan sangat banyak tambahan jalan yang akan terbuka.’). [6]

Hadhrat Masih Mau’ud as telah bersabda, “Kalian akan mempunyai tanggungjawab dan kalian akan ditanya mengenainya.” Maka kita harus banyak-banyak memikirkan hal ini bahwa kita harus memfokuskan diri pada ishlah (perbaikan) diri masing-masing. Memperoleh ilmu agama tidak berarti menyelamatkan seseorang dari tanggungjawabnya bila ia tidak beramal berdasarkan [ilmunya] itu. Mendapat amanat kepengurusan di dalam Jemaat tidak berarti membebaskan orang tersebut dari hisabnya bila ia tidak beramal sesuai apa-apa yang disampaikan oleh Allah Ta’ala. Menjadi anggota suatu keluarga pengkhidmat terkemuka [yang banyak melakukan pengorbanan kepada Jemaat] tidak membebaskan orang itu dari hisabnya apabila perbuatannya tidak sesuai dengan ajaran yang diberikan oleh Allah Ta’ala. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda mengenai hal ini di tempat lain bahwa “Hanya dengan berbaiat saja tidaklah menjadikan kalian pewaris karunia-karunia muttabi’iin (para pengikut, pengikut Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud as).” [6]

Hadhrat Khalifatul Masih IV (rh) bersabda, saya beritahukan kepada Jemaat bahwasanya manusia menuntut ilmu sepanjang hidupnya. Dan orang yang menganggap bahwa dia telah terlepas dari batas ketentuan untuk menuntut ilmu, adalah orang yang takabbur dan bodoh. Untaian pencarian ilmu ini terus berkelanjutan sampai saat-saat akhir, dan memang harus terus berkelanjutan. Disitulah letak kemuliaan umat Muhammadiyah, dan begitulah pelajaran yang telah diberikan kepada umat Muhammadiyah: Allaahumma shalliy 'alaa nmhan nadin wa'alaa aali muhammadin wabaarik wasallim. Yakni, teruslah belajar sampai nafas penghabisan, dan ajarkan [kepada yang lain].[7]

Ayat Keempat

Allah Ta'ala berfirman,

وَمِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّقُوۡلُ رَبَّنَاۤ اٰتِنَا فِی الدُّنۡیَا حَسَنَۃً وَّفِی الۡاٰخِرَۃِ حَسَنَۃً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿۲۰۲﴾

Dan d di antara mereka ada yang berkata, “Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan dalam kehidupan di dunia dan berilah kami kebaikan di akhirat, 239 dan peliharalah kami dari azab Api.” (QS Al-Baqarah, 2:202)

Tafsir 239. Ayat ini menyebut golongan orang dengan upaya-upaya dan hasrat-hasratnya tidak hanya terbatas pada dunia ini. Mereka mencari segala yang baik dari dunia ini dan pula segala yang baik dari alam ukhrawi. Hasanah berarti pula sukses (Tāj). Doa ini sangat padat dan Rasulullah Saw amat sering mempergunakannya (Muslim).

Islam tidak melarang kenikmatan-kenikmatan jasmani, melainkan menasehati agar mendahulukan agama diatas duniawi meski hidup di dunia. Hadhrat Masih Mau’ud as juga bersabda tentang itu: “Islam tidak mengizinkan cara hidup biarawan karena yang demikian perbuatan pengecut. Tidak peduli seberapa jauh seorang mukmin terlibat di dalam urusan duniawi, namun hal tersebut senantiasa menjadi sumber untuk memperoleh kedudukan rohaniah yang lebih tinggi karena tujuan sejatinya adalah agama. Sedangkan dunia dengan segala kekayaan dan kemegahannya merupakan sarana untuk mengkhidmati agama.

Perkara utamanya adalah dunia hendaknya tidak menjadi tujuan akhir baginya namun maksud sebenarnya meraih tujuan-tujuan duniawi adalah demi mengkhidmati agama. Seperti halnya berpergian, seseorang menggunakan sarana transportasi dan perbekalan dengan maksud agar sampai di suatu tempat tujuan. Transportasi dan perbekalan merupakan hal yang bersifat insidentil. Jadi, hendaknya ia mencari dunia dengan cara yang sama yakni sebagai sarana untuk mengkhidmati agama.

Allah telah mengejarkan kita doa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami segala yang baik di dunia dan segala yang baik di akhirat...’ [Al-Baqarah, 2:202] Ayat ini juga mendahulukan urusan dunia. Tetapi, urusan dunia yang mana? Yakni ‘segala kebaikan dunia’ yang merupakan penyebab kebaikan di Akhirat. Ajaran yang terkandung di dalam doa ini secara jelas menunjukan seorang mukmin hendaknya memperhatikan kebaikan akhirat ketika mencari tujuan-tujuan duniawi.

Istilah "fid-dunyaa hasanah" mencakup segala sarana terbaik untuk mencari dunia yang hendaknya dijalankan/dipilih oleh seorang mukmin demi meraih tujuan-tujuan duniawi. Carilah tujuan-tujuan duniawi dengan segala sarana tersebut yang hanya menghasilkan kebaikan dan bukan sarana-sarana yang menyebabkan timbulnya penderitaan atau rasa malu bagi manusia lain. Meraih dunia yang seperti ini tidak diragukan lagi akan menjadi sumber untuk mencapai kebaikan di akhirat.” [8] [9]

Pidato Khalifah ‘Umar (ra) perihal kemenangan kaum Muslimin dan sikap-sikap yang beliau wanti-wantikan pada mereka. Kemenangan lahiriah berupa banyaknya kemenangan dalam peperangan adalah suatu hal yang dulu sering terjadi di banyak bangsa-bangsa. Yang amat dikhawatirkan ialah perubahan keruhanian pada umat Muslim. Bila terjadi demikian, akan Tuhan datangkan kaum lain yang lebih patut mengkhidmati agama.[10]

Allah Ta’ala ingin menguji pendusta dan orang yang benar. Ini adalah saatnya untuk memperlihatkan ketulusan dan kesetiaan dan diberikan kesempatan terakhir. Kesempatan ini tidak akan kembali lagi. Pada zaman inilah waktu penghujung bagi nubuatan semua Nabi. Maka dari itu, ini merupakan kesempatan terakhir yang diberikan kepada manusia untuk memperlihatkan ketulusan dan berkhidmat. Setelah itu tidak ada kesempatan lain lagi, sangat merugilah orang yang luput dari kesempatan ini.” [11]

Ayat Kelima

Allah Ta'ala berfirman,

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لِمَ تَقُوۡلُوۡنَ مَا لَا تَفۡعَلُوۡنَ ﴿۳﴾ کَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰہِ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا مَا لَا تَفۡعَلُوۡنَ ﴿۴﴾

Hai orang-orang yang beriman, mengapakah kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan? 3034 Sangatlah dibenci di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.(QS Ash Shaf: 61:3-4).

Tafsir 3034. Perbuatan seorang Muslim hendaknya sesuai dengan pernyataanpernyataannya. Bicara sombong dan kosong, membawa seseorang tidak keruan kemana yang dituju, dan ikrar-ikrar lidah tanpa disertai perbuatanperbuatan nyata adalah berbau kemunafikan dan ketidaktulusan.

Hadhrat Masih Mau’ud as juga bersabda : "Ingatlah hanya kata-kata belaka tidak akan berhasil kecuali didukung oleh amalan. Kata-kata belaka tidak memiliki nilai dalam pandangan Allah, oleh karena itu, Allah Ta’ala telah menyatakan: "Sungguh dibenci dalam pandangan Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan"

Hadhrat Masih Mau’ud as mengajarkan bahwa jika seseorang ingin mengkhidmati Islam, pertama dia harus menjalankan ketakwaan. Dia berfirman:

اِصۡبِرُوۡا وَصَابِرُوۡا وَرَابِطُوۡا

bersabarlah dan berusahalah untuk unggul dalam kesabaran...' (QS Ali 'Imran [3]:201)

Sama seperti perlu memiliki kuda di garis depan sehingga musuh tidak melewati batas, kalian juga harus siap, jangan sampai musuh melewati garis depan dan merugikan Islam. Saya telah mengatakan ini sebelumnya bahwa jika kalian ingin memajukan dan mengkhidmati Islam, pertama jalankan ketakwaan dan kesucian yang dengannya kalian dapat masuk ke dalam perlindungan teguh Allah Ta’ala dan kemudian mendapat hak mengkhidmati Islam. Kalian lihat betapa telah lemahnya kekuatan luar umat Muslim. Bangsa-bangsa melihat mereka dengan kebencian dan penghinaan. Jika kekuatan batin kalian juga melemah dan terkalahkan, maka anggaplah bahwa ini sudah habis. Karena itu, kalian harus memurnikan jiwa kalian supaya kekuatan kesucian meresapinya dan jiwa kalian menjadi kuat dan protektif seperti kuda di garis depan (perbatasan).

Karunia Allah Ta’ala selalu beserta orang bertakwa dan jujur. Jangan menjadikan akhlak dan cara hidup kalian sedemikian rupa sehingga mereka menyebabkan cacat pada [nama] Islam.[12]

Ayat Keenam

Allah Ta'ala berfirman,

اُدۡعُ اِلٰی سَبِیۡلِ رَبِّکَ بِالۡحِکۡمَۃِ وَالۡمَوۡعِظَۃِ الۡحَسَنَۃِ وَجَادِلۡہُمۡ بِالَّتِیۡ ہِیَ اَحۡسَنُ ؕ اِنَّ رَبَّکَ ہُوَ اَعۡلَمُ بِمَنۡ ضَلَّ عَنۡ سَبِیۡلِہٖ وَہُوَ اَعۡلَمُ بِالۡمُہۡتَدِیۡنَ ﴿۱۲۶﴾

Panggillah kepada jalan Tuhan engkau dengan kebijaksanaan 1588 dan nasihat yang baik, dan bertukar-pikiranlah dengan mereka dengan cara yang sebaikbaiknya. Sesungguhnya Tuhan engkau lebih mengetahui siapa yang telah sesat dari jalan-Nya; dan Dia Maha Mengetahui pula siapa yang telah mendapat petunjuk. (QS An-Nahl 16:126)

Tafsir 1588. Hikmah berarti:

(1) pengetahuan atau ilmu; (2) keseimbangan atau keadilan; (3) kelemah-lembutan; (4) keteguhan; (5) sesuatu ucapan atau percakapan yang serasi atau cocok dengan kebenaran atau serta tuntutan keadaan; (6) anugerah nubuatan; dan (7) apa yang menghalangi atau mencegah seseorang dari perbuatan bodoh (Lane).

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menyampaikan mengenai jika ingin panjang umur, sibukkanlah diri dengan bertabligh. Beliau bersabda: “Banyak orang tidak mengetahui untuk tugas dan tujuan apa mereka datang ke dunia ini. Sebagian dari mereka pekerjaannya hanya makan-minum layaknya hewan. Mereka beranggapan, makan daging sekian, berapa pakaian yang dia pakai dan lain lain, tanpa memperdulikan dan memikirkan hal-hal lainnya. Orang yang seperti ini ketika dicengkeram hukuman, seketika itu juga tamat. Namun orang yang sibuk dalam mengkhidmati agama, mereka diperlakukan lembut selama ia belum menyelesaikan pekerjaan dan pengkhidmatannya itu.

Jika manusia menginginkan berumur panjang, sedapat mungkin secara tulus wakafkanlah umurnya semata-mata demi pengkhidmatan agama. Ingatlah! Allah Ta’ala tidak akan tertipu. Orang yang berupaya menipu Allah Ta’ala, berarti dia menipu dirinya sendiri dan dia akan binasa karena hukuman-Nya.

Tidak ada resep yang lebih baik untuk memanjangkan umur selain menyibukkan diri dalam meninggikan kalimah Islam disertai dengan keikhlasan dan kesetiaan serta menyibukkan diri dalam mengkhidmati agama. Pada masa ini resep tersebut sangatlah manjur karena saat ini agama memerlukan pengkhidmat-pengkhidmat yang mukhlis, jika hal tersebut tidak ada, umurnya tidak dapat dipastikan, berlalu begitu saja.” [13][14]

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menekankan pentingnya pengkhidmatan Islam, beliau bersabda: “Waktu sekarang sempit. Saya berkali-kali nasihatkan jangan ada pemuda yang merasa yakin dia masih berumur 18 atau 19 tahun dan beranggapan umurnya masih sangat panjang. Orang yang merasa sehat, janganlah berbangga dengan kesehatan dan kebugarannya. Begitu juga jika ada orang yang keadaannya baik, janganlah merasa bangga akan kebesarannya itu. Zaman tengah mengalami satu perubahan, ini merupakan akhir zaman.[14]

Ayat Ketujuh

Allah Ta'ala berfirman,

اِنَّ اللّٰہَ اشۡتَرٰی مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَنۡفُسَہُمۡ وَاَمۡوَالَہُمۡ بِاَنَّ لَہُمُ الۡجَنَّۃَ ؕ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ فَیَقۡتُلُوۡنَ وَیُقۡتَلُوۡنَ ۟ وَعۡدًا عَلَیۡہِ حَقًّا فِی التَّوۡرٰٮۃِ وَالۡاِنۡجِیۡلِ وَالۡقُرۡاٰنِ ؕ وَمَنۡ اَوۡفٰی بِعَہۡدِہٖ مِنَ اللّٰہِ فَاسۡتَبۡشِرُوۡا بِبَیۡعِکُمُ الَّذِیۡ بَایَعۡتُمۡ بِہٖ ؕ وَذٰلِکَ ہُوَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِیۡمُ ﴿۱۱۱﴾

Sesungguhnya, Allah telah membeli dari orang-orang mukmin jiwa mereka dan harta mereka dan sebagai gantinya bagi mereka tersedia surga; sebab mereka berperang pada jalan Allah, dan mereka membunuh atau terbunuh, janji yang pasti dari-Nya sebagaimana dijelaskan pula dalam Taurat, Injil 1219 dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih setia menepati janjinya lebih dari pada Allah? Maka bergembiralah kamu dengan jual-beli yang telah kamu lakukan dengan-Nya, dan itulah kemenangan yang besar.(QS At Taubah 9:111)

Tafsir 1219: Taurat (Ulangan 6: 3-5) dan Injil (Matius 19: 21 dan 27-29).

Apa itu tujuan hakiki baiat? Beliau as bersabda: “Tempuhlah jalan takwa, bacalah Quran Syarif dengan perenungan yang dalam, tadabburilah dan amalkanlah. Karena demikianlah sunnah Allah yakni Dia tidak lantas akan ridha dengan perkataan dan pernyataan saja, melainkan untuk meraih keridhaan Ilahi adalah penting untuk mengikuti hukum-hukum-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Hindarilah hal hal yang dilarang oleh Allah Ta’ala. Jelas kita menyaksikan manusia pun tidak lantas bahagia dengan ucapan saja melainkan akan bahagia dengan pengkhidmatan.” [14]

Beliau (as) bersabda: “Hanya baiat dengan lisan saja, tidak berarti apa-apa melainkan berusahalah dan panjatkanlah doa yang banyak kepada Allah Ta’ala supaya Dia menjadikanmu orang yang benar. Janganlah lalai! Janganlah malas! Melainkan, bergegaslah! Berusahalah untuk mengamalkan ajaran yang telah kuberikan dan melangkahlah pada jalan yang telah kutunjukkan kepada kalian.” [15] [11]

Berkenaan dengan Tujuan Baiat, Hadhrat Masih Mau'ud (as) bersabda,

“Sumpah baiat ini bertujuan untuk mengumpulkan orang-orang benar yang tak dapat dipengaruhi dunia dan membawa berkat bagi Islam dengan berkhidmat untuk penyebarannya dengan cita-cita yang sama. Kelompok ini tidak boleh terdiri dari orang-orang Islam yang malas, tak berguna, dan bermulut besar yang melalui perpecahan dan amal buruk mereka telah menyebabkan kerugian tak terhitung bagi Islam serta mengotori wajah Islam yang bersih. Jemaat ini juga tidak boleh terdiri dari orang-orang yang mengisolasi diri, yang tidak mengenal kepentingan-kepentingan Islam dan permintaan manusia serta kesejahteraan mereka. Jemaat ini harus terdiri dari orang-orang yang menolong si miskin, menjadi ayah si yatim dan siap untuk menyerahkan hidup mereka demi pengabdian untuk Islam.

Mereka harus berjuang untuk menyampaikan berkat-berkat kepada dunia sehingga air kecintaan Allah dan pengabdian kepada sesama manusia menyatu di bumi. Allah telah merencanakan agar Jemaat ini mewujudkan kemuliaan dan kekuasaan-Nya. Dia akan memberkati mereka sehingga dunia dapat menyaksikan kecintaan baru pada Tuhan, tobat dari dosa, kesalehan sejati, kedamaian, niat baik, dan kesejahteraan manusia. Maka kelompok ini akan terdiri dari orang-orang yang didukung oleh Rohulkudus. Ia akan membersihkan mereka dari kekotoran kehidupan dunia dan memberikan mereka kehidupan baru. Dalam nubuatan-nubuatan-Nya yang penuh berkat, Dia telah menjanjikan kepada saya, bahwa Dia akan memperbesar Jemaat ini berlipat ganda dan ribuan orang yang taat akan menggabungkan diri. Dia akan memelihara dan mengembangkan mereka sampai jumlah dan kekuatan mereka akan terlihat mencengangkan bagi para pengamat. Mereka akan menerangi dunia seperti cahaya yang ditempatkan di atas bukit, dan mereka akan menjadi contoh karunia-karunia Islam. Anggota-anggota Jemaat yang benar-benar patuh akan unggul diatas penentang mereka, dan akan selalu muncul diantara mereka sekelompok orang yang akan dipilih Allah untuk mendukung-Nyasampai dunia berakhir. Inilah yang diinginkan Tuhan kita Yang Maha Kuasa. Dia Maha Kuasa dan melakukan apa yang Dia inginkan, karena semua kekuasaan dan kemampuan adalah milik-Nya.”

Referensi