Khotbah-huzur-20211231: Perbedaan revisi

Dari Isa Mujahid Islam
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
k (menghilangkan break)
k
Baris 5: Baris 5:
 
menyampaikan topik berkenaan dengan kehidupan Hadhrat Abu Bakar ra.
 
menyampaikan topik berkenaan dengan kehidupan Hadhrat Abu Bakar ra.
  
== Latar Belakang Keluarga Hadhrat Abu Bakar ra. == Hudhur aba. bersabda bahwa nama asli dari Hadhrat Abu Bakar ra. adalah Abdullah, dan nama ayahanda beliau ra. adalah Usman bin Amir. Nama panggilan beliau ra. adalah Abu Bakar, dan beliau ra. juga dikenal dengan nama “Atiq” dan “Siddiq”. Diriwayatkan bahwa Hadhrat Abu Bakar ra. lahir pada tahun 573 M. Beliau ra. berasal dari suku Quraisy yang bernama Taim bin Murrah. Di masa jahiliyah (sebelum Islam), nama beliau ra. adalah Abdul Ka'bah, yang kemudian dirubah oleh Hadhrat Rasulullah saw. menjadi Abdullah. Menurut riwayat, ibunda beliau ra. bernama Salamah binti Sakhr binti Amir, atau ada juga riwayat yang menyatakan bahwa ibunda beliau adalah Lailah binti Sakhr.
+
== Latar Belakang Keluarga Hadhrat Abu Bakar ra. ==
 +
Hudhur aba. bersabda bahwa nama asli dari Hadhrat Abu Bakar ra. adalah Abdullah, dan nama ayahanda beliau ra. adalah Usman bin Amir. Nama panggilan beliau ra. adalah Abu Bakar, dan beliau ra. juga dikenal dengan nama “Atiq” dan “Siddiq”. Diriwayatkan bahwa Hadhrat Abu Bakar ra. lahir pada tahun 573 M. Beliau ra. berasal dari suku Quraisy yang bernama Taim bin Murrah. Di masa jahiliyah (sebelum Islam), nama beliau ra. adalah Abdul Ka'bah, yang kemudian dirubah oleh Hadhrat Rasulullah saw. menjadi Abdullah. Menurut riwayat, ibunda beliau ra. bernama Salamah binti Sakhr binti Amir, atau ada juga riwayat yang menyatakan bahwa ibunda beliau adalah Lailah binti Sakhr.
  
 
== Ayahanda Hadhrat Abu Bakar ra. Masuk Islam ==  
 
== Ayahanda Hadhrat Abu Bakar ra. Masuk Islam ==  

Revisi per 7 Januari 2022 02.42

Ringkasan Khutbah Jum’at Kutipan dari Khutbah Jum'at yang disampaikan oleh Hadhrat Khalīfatul-Masīh V aba pada 03 Desember 2021 di Masjid Mubarak Islāmabad, Tilford, Inggris.

Setelah membaca Tasyahud, Ta`awwuz dan Surah Al-Fatihah, Khalifatul Masih Al-Khamis, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad aba. bersabda bahwa beliau aba. akan mulai menyampaikan topik berkenaan dengan kehidupan Hadhrat Abu Bakar ra.

Latar Belakang Keluarga Hadhrat Abu Bakar ra.

Hudhur aba. bersabda bahwa nama asli dari Hadhrat Abu Bakar ra. adalah Abdullah, dan nama ayahanda beliau ra. adalah Usman bin Amir. Nama panggilan beliau ra. adalah Abu Bakar, dan beliau ra. juga dikenal dengan nama “Atiq” dan “Siddiq”. Diriwayatkan bahwa Hadhrat Abu Bakar ra. lahir pada tahun 573 M. Beliau ra. berasal dari suku Quraisy yang bernama Taim bin Murrah. Di masa jahiliyah (sebelum Islam), nama beliau ra. adalah Abdul Ka'bah, yang kemudian dirubah oleh Hadhrat Rasulullah saw. menjadi Abdullah. Menurut riwayat, ibunda beliau ra. bernama Salamah binti Sakhr binti Amir, atau ada juga riwayat yang menyatakan bahwa ibunda beliau adalah Lailah binti Sakhr.

Ayahanda Hadhrat Abu Bakar ra. Masuk Islam

Hudhur aba. bersabda bahwa berdasarkan silsilah keturunan dari Hadhrat Abu Bakar ra, beliau ra. memiliki hubungan kekerabatan dengan Hadhrat Rasulullah saw. dimana silsilah keturunan beliau ra. bertemu dengan silsilah keturunan Hadhrat Rasulullah saw. di generasi ketujuh sebelum beliau ra. Demikian pula, silsilah keluarga ibunda beliau ra. juga bertemu dengan silsilah keturunan Hadhrat Rasulullah saw. (di generasi keenam, pent). Kedua orang tua Hadhrat Abu Bakar ra. telah berbai’at menerima Islam. Ayahanda beliau ra. pada mulanya belum mau beriman, hingga akhirnya ia masuk Islam ketika peristiwa Fatah Mekah, dimana saat itu, ia telah kehilangan penglihatannya. Di dalam peristiwa Fatah Mekah itu, Hadhrat Abu Bakar ra. membawa ayahnya ke hadapan Hadhrat Rasulullah saw. Setelah melihat ayahanda beliau ra. itu, Hadhrat Rasulullah saw. bersabda bahwa seharusnya Hadhrat Abu Bakar ra. tetap tinggal di rumah, dan beliau saw. sendiri yang akan mengunjunginya di rumahnya. Hadhrat Abu Bakar ra. bersabda bahwa lebih layak baginya untuk datang menemui Nabi Muhammad saw., daripada Nabi Muhammad saw. sendiri yang pergi ke rumahnya. Kemudian, Nabi Muhammad saw. meletakkan tangan beliau saw. di dada ayahanda Hadhrat Abu Bakar ra., dan mengajaknya untuk berbai’at ke dalam agama Islam. Ia pun menerima ajakan itu dan akhirnya masuk Islam.

Ibunda Hadhrat Abu Bakar ra. Bai’at Menerima Islam

Hudhur aba. bersabda bahwa ibunda Hadhrat Abu Bakar ra. adalah salah satu orang yang paling awal yang berbai’at ke dalam agama Islam. Suatu hari di masa Darul Arqam, ketika umat Islam masih harus beribadah dengan cara sembunyi-sembunyi, Hadhrat Abu Bakar ra. menyarankan kepada Nabi Muhammad saw. agar mereka pergi ke Masjidil Haram. Di sana, Hadhrat Abu Bakar ra. menyampaikan pidato yang isinya adalah mengajak orang-orang untuk bai’at menerima Islam. Nabi Muhammad saw. pun hadir di sana ketika itu. Dengan begitu, maka setelah Nabi Muhammad saw., Hadhrat Abu Bakar ra. adalah orang pertama yang berbicara di depan umum dan mengajak orang-orang untuk masuk Islam. Karena dakwahnya itu, orang-orang kafir lalu memukuli Hadhrat Abu Bakar ra., sehingga wajahnya menjadi bengkak dan memar sedemikian rupa sehingga hidungnya tidak bisa dibedakan lagi dari wajahnya. Setelah memukulinya, orang-orang yakin bahwa Hadhrat Abu Bakar ra. pasti akan meninggal diakibatkan oleh luka-luka yang dideritanya. Beliau ra. tidak dapat berbicara dikarenakan tidak sadarkan diri, hingga akhirnya di malam hari, beliau ra. mulai tersadar dan langsung menanyakan kondisi Nabi Muhammad saw. Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang bisa menjawabnya. Hadhrat Abu Bakar ra. lalu meminta ibunya untuk pergi menemui Ummu Jamil untuk bertanya kepadanya mengenai kondisi Nabi Muhammad saw. Ummu Jamil ini sebenarnya adalah seorang Muslim, akan tetapi ia tidak mengungkapkannya secara terang-terangan. Ibunda Hadhrat Abu Bakar ra. lalu pergi, dan membawa Ummu Jamil kembali bersamanya. Ummu Jamil lalu memberi tahu Hadhrat Abu Bakar ra. bahwasanya Nabi Muhammad saw. dalam keadaan baik-baik saja. Kemudian, Hadhrat Abu Bakar ra. dibawa untuk menemui Nabi Muhammad saw. dengan bantuan ibunya. Ketika akhirnya bertemu dengan Nabi Muhammad saw., beliau ra. diliputi oleh rasa kecintaan yang sedemikian rupa mendalamnya kepada Nabi Muhammad saw. Nabi Muhammad saw. mencium Hadhrat Abu Bakar ra. Kemudian, Hadhrat Abu Bakar ra. memohon kepada Nabi Muhammad saw. untuk mendoakan ibunya. Nabi Muhammad saw. lalu mengajak Ibunda beliau ra. untuk menerima Islam. Ia menerima ajakan Nabi Muhammad saw. tersebut dan akhirnya ia pun masuk Islam.

Julukan Hadhrat Abu Bakar ra.

Hudhur aba. bersabda bahwa Hadhrat Abu Bakar ra. dikenal dengan gelar Atiq dan Siddiq. Beliau ra. disebut Atiq karena suatu kali, Nabi Muhammad saw. bersabda kepadanya bahwa beliau (Hadhrat Abu Bakar ra.) adalah orang yang diselamatkan oleh Allah Ta’ala dari api. Sejak saat itulah, beliau ra. dikenal dengan gelar Atiq. Ada riwayat lainnya yang menyatakan bahwa alasan Hadhrat Abu Bakar ra. diberi gelar Atiq adalah dikarenakan keindahan akhlak dan sifat beliau ra. yang sangat mulia. Atiq juga berarti tua atau kuno. Ada beberapa riwayat lainnya yang menyebutkan bahwa beliau ra. dikenal dengan gelar itu dikarenakan beliau ra. memiliki akhlak yang sangat mulia dan yang paling pertama bai’at menerima Islam.

Hudhur aba. bersabda bahwa Hadhrat Abu Bakar ra. juga dikenal dengan gelar Siddiq. Diriwayatkan bahwa beliau ra. telah mendapatkan gelar tersebut bahkan sejak masa jahiliyah. Hal ini dikarenakan beliau ra. memiliki standar kejujuran yang sangat tinggi. Diriwayatkan pula bahwa apabila Nabi Muhammad saw. menyampaikan suatu berita atau informasi apapun kepada beliau ra., maka beliau ra. akan segera mempercayai dan membenarkannya. Karena itulah, beliau ra. dikenal dengan gelar siddiq. Misalnya, ketika Nabi Muhammad saw. diperlihatkan kasyaf peristiwa isra di mana beliau saw. melakukan perjalanan malam ke Yerusalem yang berjarak sekitar 1.300 kilometer jauhnya, orang-orang pergi menemui Hadhrat Abu Bakar ra. dan bertanya kepadanya apakah beliau ra. membenarkan dan mempercayai pernyataan Nabi Muhammad saw tersebut. Hadhrat Abu Bakar ra. langsung membenarkan pernyataan Nabi Muhammad saw. Karena itulah, beliau ra. dikenal sebagai Siddiq. Terdapat sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa malaikat Jibril telah memberi tahu Nabi Muhammad saw. bahwasanya Hadhrat Abu Bakar ra. akan membenarkan kasyaf beliau saw tersebut. Karena itulah, beliau ra. diberi gelar Siddiq.

Hudhur aba. bersabda bahwa Hadhrat Abu Bakar ra. juga memiliki gelar Khalifatur Rasulillah (Penerus Rasulullah). Gelar ini tentu saja adalah gelar yang diberikan kepada beliau ra. setelah kewafatan Nabi Muhammad saw. Diriwayatkan juga bahwa beliau ra. dikenal sebagai Awwahun, yang artinya orang yang berhati lembut. Gelar lain yang diberikan kepada beliau ra. adalah Amirusy Syaaqirin (Pemimpin orang-orang yang bersyukur). Gelar ini diberikan kepada beliau dikarenakan beliau ra. adalah orang yang senantiasa bersyukur. Gelar lainnya yang diberikan kepada beliau ra. oleh Allah Ta’ala, yaitu Tsani Itsnain (salah satu dari dua). Gelar ini merujuk kepada peristiwa ketika Hadhrat Abu Bakar ra. bersama dengan Nabi Muhammad saw. bersembunyi di gua Hira. Gelar lainnya adalah Shahibur Rasul (Pendamping Rasul). Gelar ini juga didapat ketika Nabi Muhammad saw. memberi tahu sahabatnya di gua Hira untuk tidak khawatir, sebagaimana yang tercantum dalam QS. At-Taubah. Ketika ayat tersebut dibacakan, Hadhrat Abu Bakar ra. menangis dan berkata bahwa beliaulah pendamping/sahabat yang dimaksud dalam ayat itu. Beliau ra. juga dikenal sebagai Adam-e-Tsani (Adam yang Kedua), yaitu gelar yang diberikan kepada beliau ra. oleh Hadhrat Masih Mau'ud as. Hadhrat Abu Bakar ra. juga tercatat dalam sejarah sebagai Khalilur Rasul (Sahabat karib Rasul). Diriwayatkan bahwasanya Nabi Muhammad saw. bersabda bahwa jika beliau saw. harus menjadikan seseorang sebagai Khalil (sahabat karib) yang berasal dari antara orang-orang Quraisy, maka orang itu pastilah Hadhrat Abu Bakar ra. Hadhrat Masih Mau'ud as. menjelaskan sabda dari Hadhrat Rasulullah saw. tersebut bahwa tentu saja Hadhrat Abu Bakar ra. sudah menjadi sahabat Nabi Muhammad saw sejak awal. Akan tetapi, kata Khalil di sini merujuk pada makna “melebur menjadi satu”. Ini adalah sebuah kata yang hanya digunakan untuk menggambarkan betapa dekatnya hubungan seseorang dengan Allah Ta’ala, dan kata itu tidak dapat digunakan untuk menggambarkan hubungan antar sesama manusia. Oleh karena itu, Nabi Muhammad saw. hendak mengungkapkan bahwa jika kata ini dapat disematkan kepada seseorang, maka orang itu pastilah Hadhrat Abu Bakar ra.

Hudhur aba. bersabda berkenaan dengan gelar beliau yaitu Abu Bakar. “Bakar” dapat merujuk pada seekor unta muda. Karena memiliki kegemaran dan kepiawaian dalam memelihara unta, sehingga beliau ra. dikenal dengan sebutan “Abu Bakar”. “Bakara” juga berarti “cepat dalam bertindak”, yang artinya adalah beliau ra. lebih dahulu masuk Islam (dibandingan dengan yang lainnya, pent). Beliau ra. juga berada di garis terdepan dalam memberikan contoh teladan akhlak yang sangat mulia.

Hudhur aba. bersabda bahwa Hadhrat Abu Bakar ra. berkulit putih dan bertubuh kurus, sedikit bungkuk, matanya sedikit cekung, dan beliau ra. memiliki dahi yang lebar.

Hudhur aba. bersabda bahwa sebelum bai’at ke dalam Islam, beliau ra. sebenarnya sudah dianggap sebagai orang yang terhormat. Beliau ra. adalah seorang pengusaha dan menjalani usahanya sembari menampilkan akhlak yang sangat terpuji. Orang-orang sering datang kepada beliau ra. untuk meminta nasihat tentang berbagai hal. Beliau ra. juga dikenal sebagai salah satu pengusaha paling sukses di Arab. Beliau ra. termasuk orang yang paling shaleh dan sangat dermawan. Beliau ra. dicintai oleh semua orang dan senantiasa menjalin hubungan yang baik dengan sesama manusia. Diriwayatkan bahwa beliau ra. memiliki pengetahuan yang sangat luas dalam menafsirkan mimpi. Ibnu Sirin mengatakan bahwa setelah Nabi Muhammad saw., Hadhrat Abu Bakar ra. adalah orang yang paling mahir dalam hal ini.

Hudhur aba. bersabda bahwa orang-orang Mekah menganggap Hadhrat Abu Bakar ra. sebagai orang yang terbaik di antara mereka. Mereka akan meminta pendapat kepada beliau ra. mengenai berbagai hal. Beliau ra. juga merupakan bagian dari Hilful Fudhul, sebuah kelompok yang didirikan untuk membantu orang-orang yang tertindas dan teraniaya. Beliau ra. selalu menegakkan keadilan. Kelompok ini adalah kelompok yang Nabi Muhammad saw. juga menjadi bagian di dalamnya.

Akhlak Hadhrat Abu Bakar ra. di Masa Jahiliyah

Hudhur aba. bersabda sejak zaman jahiliyah (sebelum turunnya agama Islam), Hadhrat Abu Bakar ra. sudah menolak dan menentang penyembahan berhala. Beliau ra. tidak pernah sujud di hadapan berhala apapun. Beliau ra. juga menolak untuk meminum alkohol dan tidak pernah meminumnya sama sekali. Bahkan di masa-masa jahiliyah pun, beliau ra. tidak pernah meminum alkohol. Ketika ditanya mengapa beliau ra. tidak pernah meminum alkohol, beliau ra. menjawab hal itu dikarenakan beliau ra. sadar akan kehormatan dan kesuciannya, dimana kehormatannya itu tidak akan bisa terjaga apabila ia mengonsumsi alkohol.

Hudhur aba. kemudian menyampaikan peristiwa berkenaan dengan masuknya Hadhrat Abu Bakar ra. ke dalam agama Islam. Hadhrat Abu Bakar ra. mendengar kabar bahwa suami Khadijah telah mendakwakan dirinya sebagai nabi, seperti halnya Nabi Musa as. Hadhrat Abu Bakar ra. lalu pergi menemui Nabi Muhammad saw. dan langsung mempercayai dan membenarkan pendakwaan beliau saw. tersebut. Diriwayatkan juga bahwa sebelum diutusnya Nabi Muhammad saw., Hadhrat Abu Bakar ra. melihat dalam mimpi bahwa ada sebuah bulan yang jatuh di kota Mekah. Bulan itu lalu hancur berkeping-keping dan pecahan-pecahannya berserakan dan tersebar ke setiap rumah. Kemudian, semua pecahan-pecahan dari bulan tersebut berkumpul di pangkuannya. Ketika beliau ra. bertanya tentang tafsir dari mimpinya itu, beliau ra. diberitahu bahwasanya seorang nabi yang ditunggu-tunggu akan segera datang, dan Hadhrat Abu Bakar ra. akan menjadi pengikutnya yang paling pertama.

Hudhur aba. bersabda bahwa Hudhur aba. akan kembali menyampaikan peristiwaperistiwa yang terjadi di dalam kehidupan Hadhrat Abu Bakar ra. di khutbah-khutbah yang akan datang.

Referensi

Diringkas oleh: The Review of Religions