Perubahan

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
43 bita dihapus ,  25 Agustus 2022 01.21
tidak ada ringkasan suntingan
Baris 131: Baris 131:  
Dalam janji baiat poin '''ketiga''', Hadhrat Masih Mau'ud (as) menuliskan,
 
Dalam janji baiat poin '''ketiga''', Hadhrat Masih Mau'ud (as) menuliskan,
   −
&quot;Akan senantiasa mendirikan shalat lima waktu semata-mata karena mengikuti perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, dan dengan sekuat tenaga akan senantiasa mendirikan shalat Tahajud, dan mengirim '''selawat''' kepada Junjungannya Yang Mulia Rasulullah (saw) dan memohon ampun dari kesalahan dan mohon perlindungan dari dosa; akan ingat setiap saat kepada nikmat-nikmat Allah, lalu mensyukurinya dengan hati tulus, serta memuji dan menjunjung-Nya dengan hati yang penuh kecintaan.&quot; <ref>[[200/janji-baiat-ahmadiyah.html|Arsip Isa - Janji Baiat]]
+
&quot;Akan senantiasa mendirikan shalat lima waktu semata-mata karena mengikuti perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, dan dengan sekuat tenaga akan senantiasa mendirikan shalat Tahajud, dan mengirim '''selawat''' kepada Junjungannya Yang Mulia Rasulullah (saw) dan memohon ampun dari kesalahan dan mohon perlindungan dari dosa; akan ingat setiap saat kepada nikmat-nikmat Allah, lalu mensyukurinya dengan hati tulus, serta memuji dan menjunjung-Nya dengan hati yang penuh kecintaan.&quot; <ref>[https://ahmadiyah.id/10-syarat-baiat-dalam-ahmadiyah.html 10 Syarat Bai’at dalam Ahmadiyah]
 
</ref>
 
</ref>
   Baris 155: Baris 155:  
Beliau (as) juga bersabda,
 
Beliau (as) juga bersabda,
   −
<blockquote>Demikian pula apa yang dapat dilakukan oleh upaya dan usaha manusiawi dalam melaksanakan shalat tidak lebih dari sekedar sedapat mungkin melaksanakan shalat dalam kondisi suci bersih dan meniadakan mara bahaya serta berupaya agar shalatnya tidak jatuh secara ruhani dan segenap rukun-rukunnya, pujian pada Tuhan, tobat dan istighfar serta '''Shalawat''' dilakukan dengan disertai gejolak hati. Akan tetapi semua ini berada di luar wewenang manusia supaya dalam shalatnya timbul rasa cinta dan kekhusyuan pribadi yang luar bisa disertai keasyikan yang dipenuhi dengan kefanaan dan bersih dari segala kekotoran hati, seakan-akan ia melihat Allah Ta’ala. Jelas kiranya bahwa sebelum kondisi ini tercipta dalam shalat seseorang, maka ia belum terbebas dari kerugian. Untuk itulah Allah Ta’ala berfirman bahwa orang yang muttaqi adalah orang yang menegakkan shalat dan hal yang ditegakkan itu adalah sesuatu yang rentan jatuh <ref>Hazrat Mirza Ghulam Ahmad (as), 2018. [[buku/haqiqatul-wahy-2018.pdf|Haqiqatul Wahy]]. Neratja Press hlm. 160
+
<blockquote>Demikian pula apa yang dapat dilakukan oleh upaya dan usaha manusiawi dalam melaksanakan shalat tidak lebih dari sekedar sedapat mungkin melaksanakan shalat dalam kondisi suci bersih dan meniadakan mara bahaya serta berupaya agar shalatnya tidak jatuh secara ruhani dan segenap rukun-rukunnya, pujian pada Tuhan, tobat dan istighfar serta '''Shalawat''' dilakukan dengan disertai gejolak hati. Akan tetapi semua ini berada di luar wewenang manusia supaya dalam shalatnya timbul rasa cinta dan kekhusyuan pribadi yang luar bisa disertai keasyikan yang dipenuhi dengan kefanaan dan bersih dari segala kekotoran hati, seakan-akan ia melihat Allah Ta’ala. Jelas kiranya bahwa sebelum kondisi ini tercipta dalam shalat seseorang, maka ia belum terbebas dari kerugian. Untuk itulah Allah Ta’ala berfirman bahwa orang yang muttaqi adalah orang yang menegakkan shalat dan hal yang ditegakkan itu adalah sesuatu yang rentan jatuh <ref>Hazrat Mirza Ghulam Ahmad (as), 2018. Haqiqatul Wahy. Neratja Press hlm. 160
 
</ref>.
 
</ref>.
 
</blockquote>
 
</blockquote>
Baris 200: Baris 200:  
Berkaitan dengan itu beliau (as) menulis pengalaman beliau dalam membaca Shalawat. Pengalaman tersebut dituangkan dalam buku Haqiqatul Wahy sebagai berikut,
 
Berkaitan dengan itu beliau (as) menulis pengalaman beliau dalam membaca Shalawat. Pengalaman tersebut dituangkan dalam buku Haqiqatul Wahy sebagai berikut,
   −
<blockquote>Suatu ketika aku mendapat kasyaf sebagai dampak membaca Shalawat. Saat itu aku sedang sangat larut dalam membaca Shalawat bagi Rasulullah (saw), karena aku meyakini bahwa jalan menuju Allah Ta’ala merupakan sebuah jalan yang sangat pelik yang tidak mungkin dapat dicapai tanpa Waṣīlah Rasulullah (saw). Sebagaimana firman Allah Ta’ala ''“dan carilah jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.”'' (QS. Al-Mā’idah: 36). Beberapa saat kemudian, aku mendapat kasyaf dimana aku melihat dua orang pembawa air datang ke rumahku. Seorang dari antara mereka masuk melalui jalan dalam, yang lainnya melalui jalan luar. Di atas pundak mereka terdapat tempat air yang terbuat dari kulit yang bercahaya. Mereka mengatakan, —“Ini adalah berkat dari shalawat engkau kepada Muhammad (saw).” <ref>Hazrat Mirza Ghulam Ahmad (as), 2018. [[buku/haqiqatul-wahy-2018.pdf|Haqiqatul Wahy]]. Neratja Press hlm. 152 (di catatan kaki)
+
<blockquote>Suatu ketika aku mendapat kasyaf sebagai dampak membaca Shalawat. Saat itu aku sedang sangat larut dalam membaca Shalawat bagi Rasulullah (saw), karena aku meyakini bahwa jalan menuju Allah Ta’ala merupakan sebuah jalan yang sangat pelik yang tidak mungkin dapat dicapai tanpa Waṣīlah Rasulullah (saw). Sebagaimana firman Allah Ta’ala ''“dan carilah jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.”'' (QS. Al-Mā’idah: 36). Beberapa saat kemudian, aku mendapat kasyaf dimana aku melihat dua orang pembawa air datang ke rumahku. Seorang dari antara mereka masuk melalui jalan dalam, yang lainnya melalui jalan luar. Di atas pundak mereka terdapat tempat air yang terbuat dari kulit yang bercahaya. Mereka mengatakan, —“Ini adalah berkat dari shalawat engkau kepada Muhammad (saw).” <ref>Hazrat Mirza Ghulam Ahmad (as), 2018. Haqiqatul Wahy. Neratja Press hlm. 152 (di catatan kaki)
 
</ref>
 
</ref>
 
</blockquote>
 
</blockquote>
Baris 211: Baris 211:  
===Gelar Al-Masih dan Al-Mahdi adalah Berkat dari Shalawat===
 
===Gelar Al-Masih dan Al-Mahdi adalah Berkat dari Shalawat===
   −
(Terdapat riwayat) dari Maulvi Abdul Karim Sialkoti, beliau mengatakan bahwa satu kali saya sendiri mendengar dari Hadhrat Imam Mahdi (as) beliau bersabda bahwa pengaruh dari shalawat dan karena sering-sering membacanya, Allah telah menganugerahkan derajat/kedudukan ini (<mark>sebagai Masih Mau'ud dan Imam Mahdi</mark>) kepadaku dan beliau bersabda bahwa aku melihat karunia-karunia atau berkat-berkat Allah dalam bentuk cahaya yang mengagumkan pergi menuju kepada Yang Mulia Rasulullah (saw) dan setelah sampai disana lalu terserap ke dalam dada Yang Mulia Rasulullah (saw) dan setelah keluar dari sana, ia lalu menjadi aliran-aliran yang mengalir yang tiada terhitung jumlahnya dan itu kemudian sampai kepada setiap orang yang berhak sesuai dengan bagiannya. Sesungguhnya, tidak ada berkat yang bisa sampai kepada yang lain tanpa melalui Yang Mulia Rasulullah (saw); Kemudian bersabda bahwa apa shalawat itu? Shalawat itu adalah menggerakkan Arasy, Yang Mulia Rasulullah (saw) yang darinya aliran-aliran nur keluar, barangsiapa yang ingin meraih karunia Allah dan berkat-Nya, maka dia harus banyak-banyak membaca shalawat, sehingga terjadi gerakan di dalam berkat dan karunia itu. <ref>Surat Kabar Al-Hakam, jilid 7, no.8 halaman 7
+
(Terdapat riwayat) dari Maulvi Abdul Karim Sialkoti, beliau mengatakan bahwa satu kali saya sendiri mendengar dari Hadhrat Imam Mahdi (as) beliau bersabda bahwa pengaruh dari shalawat dan karena sering-sering membacanya, Allah telah menganugerahkan derajat/kedudukan ini (sebagai Masih Mau'ud dan Imam Mahdi) kepadaku dan beliau bersabda bahwa aku melihat karunia-karunia atau berkat-berkat Allah dalam bentuk cahaya yang mengagumkan pergi menuju kepada Yang Mulia Rasulullah (saw) dan setelah sampai disana lalu terserap ke dalam dada Yang Mulia Rasulullah (saw) dan setelah keluar dari sana, ia lalu menjadi aliran-aliran yang mengalir yang tiada terhitung jumlahnya dan itu kemudian sampai kepada setiap orang yang berhak sesuai dengan bagiannya. Sesungguhnya, tidak ada berkat yang bisa sampai kepada yang lain tanpa melalui Yang Mulia Rasulullah (saw); Kemudian bersabda bahwa apa shalawat itu? Shalawat itu adalah menggerakkan Arasy, Yang Mulia Rasulullah (saw) yang darinya aliran-aliran nur keluar, barangsiapa yang ingin meraih karunia Allah dan berkat-Nya, maka dia harus banyak-banyak membaca shalawat, sehingga terjadi gerakan di dalam berkat dan karunia itu. <ref>Surat Kabar Al-Hakam, jilid 7, no.8 halaman 7
 
</ref> <ref>[https://www.alislam.org/archives/sermons/summary/FSS20060210-ID.pdf Khotbah Jum’at Hadhrat Khalifatul Masih V (atba) Tanggal 10 Februari 2006 Di Mesjid Baitul Futuh, London, UK]
 
</ref> <ref>[https://www.alislam.org/archives/sermons/summary/FSS20060210-ID.pdf Khotbah Jum’at Hadhrat Khalifatul Masih V (atba) Tanggal 10 Februari 2006 Di Mesjid Baitul Futuh, London, UK]
 
</ref>
 
</ref>

Menu navigasi