Keutamaan Menangis

Dari Media Isa
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Menangis seperti yang kita ketahui adalah merupakan tanggapan fisik akibat dari cerminan ataupun dari gejolak emosi yang dirasakan seseorang. Pada beberapa peristiwa, menangis adalah sinyal yang dikirimkan oleh seseorang kepada pihak lain untuk memberitahu bahwa seseorang itu betul-betul sedih atau tertekan.

Dalam aktivitas menangis, umumnya air mata keluar dari kelenjar air mata. Biasanya terjadi karena:

  1. Respon alami karena masuknya zat-zat asing ke dalam mata, seperti debu, sabun, atau ketika memotong atau mengupas bawang.
  2. Respon dari emosi manusia.[1]

Ada beberapa kata yang digunakan untuk menggambarkan aktivitas menangis dalam bahasa arab,[2] yaitu:

أعْوَلَ, بَكَى - يَبْكِيْ, ذَرَفَ الدَّمْعَ, صَاتَ, صَاحَ, صَرَخَ - يَصْرَخُ, ضَجَّ, نَاحَ, نَحَبَ - ينحب, نَشَجَ - ينشج, هَتَفَ - يهتف
Bahasa Arab Bahasa Indonesia
أعْوَلَ : Meratap, menangis
بَكَى - يَبْكِيْ : Menangis (umum)
ذَرَفَ الدَّمْعَ : meneteskan air mata, mengucurkan air mata, menangis
صَاتَ : bersuara, membuat bunyi atau suara gaduh, bersorak, menangis
صَاحَ : menangis, berteriak, bersorak, menjerit, melengking, memekik, menangis sambil berteriak-teriak
صَرَخَ - يَصْرَخُ : menangis, berteriak, bersorak, menjerit, melengking, memekik, menangis sambil berteriak-teriak
ضَجَّ : berteriak, meraung, ribut, bersorak, hiruk-pikuk, menangis
نَاحَ : meratap, meratapi, menangis, terisak
نَحَبَ - ينحب : meratap, meratapi, menangis, terisak
نَشَجَ - ينشج : menangis, tersedu, merengek
هَتَفَ - يهتف : bersorak, berteriak, menangis, menjerit

Firman Allah Ta’ala Berkaitan dengan Menangis

Alquran Surat At-Taubah Ayat 82

Allah Ta’ala berfirman,

فَلۡیَضۡحَکُوۡا قَلِیۡلًا وَّلۡیَبۡکُوۡا کَثِیۡرًا ۚ جَزَآءًۢ بِمَا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ ﴿۸۲﴾

Artinya: “Maka hendaklah mereka sedikit tertawa dan banyak menangis, sebagai balasan atas apa yang senantiasa mereka usahakan.” (QS 009:082)

Penjelasan: Ternyata ayat ini tidak mengandung suatu perintah. Ayat ini hanya berisi nubuatan bahwa waktu akan segera tiba manakala orang-orang munafik akan “sedikit tertawa dan banyak menangis.”

Alquran Surat Yunus Ayat 66

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا یَحۡزُنۡکَ قَوۡلُہُمۡ ۘ اِنَّ الۡعِزَّۃَ لِلّٰہِ جَمِیۡعًا ؕ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿۶۶﴾

Artinya: “Dan janganlah perkataan mereka itu menyedihkan engkau. Sesungguhnya kekuasaan itu kepunyaan Allah seluruhnya. Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS 010:066)

Penjelasan: Dalam Surat Yunus ayat 63 dikisahkan bahwa sahabat-sahabat Tuhan tak pernah bersedih hati, sedangkan menurut ayat ini, bahwa Rasulullah (saw) pun suka bersedih hati, makanya beliau diperintahkan agar jangan bersedih hati. Perlu diperhatikan, bahwa sesungguhnya kesedihan Rasulullah (saw) bukan memikirkan nasib beliau sendiri, melainkan memikirkan nasib orang lain. Beliau mengeluh, menangis, dan bersedih memikirkan nasib seluruh umat manusia

Alquran Surat Yusuf Ayat 17

Allah Ta’ala berfirman,

وَجَآءُوۡۤ اَبَاہُمۡ عِشَآءً یَّبۡکُوۡنَ ؕ﴿۱۷﴾

Artinya: “Dan mereka datang kepada ayahnya di waktu senja sambil menangis.” (QS 012:017)

Penjelasan: Ayat ini menjelaskan kisah Nabi Yusuf (as), dimulai dari QS Yusuf ayat 8. Dalam ayat 17 ini, para saudara nabi Yusuf datang menemui ayahanda mereka sambil menangis.

Alquran Surat Yusuf Ayat 85

Allah Ta’ala berfirman,

وَتَوَلّٰی عَنۡہُمۡ وَقَالَ یٰۤاَسَفٰی عَلٰی یُوۡسُفَ وَابۡیَضَّتۡ عَیۡنٰہُ مِنَ الۡحُزۡنِ فَہُوَ کَظِیۡمٌ ﴿۸۵﴾

Artinya: “Dan ia berpaling dari mereka itu dan berkata, “Alangkah sedihnya aku terhadap Yusuf!” Dan berlinanglah kedua matanya oleh air mata karena sedih, dan ia menahan (kesedihannya)” (QS 012:085)

Penjelasan: ‘ibyadat ‘aināhu’ artinya “matanya telah menjadi putih” maksudnya bukanlah telah ‘menjadi buta’ melainkan “matanya penuh dan banjir dengan air mata”. Hadhrat Imam Razi menulis bahwa, ‘ibyadhat ‘aināhu’ mengisyaratkan kepada banyak menangis, dengan menulis ‘inda ghalabatil bukaai yaktsurul maau fil aini fatashīrul ainu ka annaha ibyadat min bayādi dzalikal māi’ (Tafsir Razi). Kata kazīm (menahan kesedihan) pun menguatkan arti ini karena kata ini dari ‘kazmun’ yang artinya menahan rasa sedih. Karena itu mata Nabi Yaqub As banjir air mata.

Alquran Surat Al-Isra Ayat 110

Allah Ta’ala berfirman,

وَیَخِرُّوۡنَ لِلۡاَذۡقَانِ یَبۡکُوۡنَ وَیَزِیۡدُہُمۡ خُشُوۡعًا ﴿۱۱۰﴾ٛ

Artinya: “Dan mereka menjatuhkan diri atas mukanya sambil menangis dan itu menambah kekhusyukan mereka.” (QS 017:110)

Penjelasan: Ayat ini melukiskan keadaan pikiran orang Muslim, ketika berada dalam sikap sujud. Kesadaran mengenai keagungan Tuhan di satu pihak dan kesadaran mengenai kelemahan si pendoa sendiri di pihak lain, membuat jiwanya merasa amat rendah. Orang-orang mukmin disuruh bersujud setelah membaca ayat-ayat yang berisikan perintah supaya bersujud. Rasulullah (saw) biasa bersujud bilamana membaca salah satu ayat serupa itu.

Alquran Surat Al-Kahfi Ayat 7

Allah Ta’ala berfirman,

فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ اِنۡ لَّمۡ یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا الۡحَدِیۡثِ اَسَفًا ﴿۷﴾

Artinya: “Maka sangat mungkin engkau akan membinasakan dirimu karena sangat sedih memikirkan mereka jika mereka tidak beriman kepada keterangan ini.” (QS 018:007)

Penjelasan: Karena Bākhi‘ itu ism fa’il dari Bakha‘a yang berarti, ia berbuat sesuatu dengan cara setepat-tepatnya, ayat ini dengan padat dan luas melukiskan betapa besarnya perhatian dan kekhawatiran serta kecemasan Rasulullah saw mengenai kesejahteraan rohani kaum beliau. Kesedihan beliau atas penolakan dan perlawanan mereka terhadap amanat Ilahi hampir membuat beliau wafat. Memang begitulah keadaan para utusan dan nabi Allah; hatinya senantiasa penuh dengan kasih-sayang terhadap sesama manusia. Mereka berseru (kepada Tuhan). menangis. dan berdukacita demi kepentingan umat manusia. Tetapi manusia tidak tahu rasa berterimakasih. sehingga orang-orang itu sendiri yang atas mereka para nabi mempunyai perasaan yang begitu mendalam, justru merekalah yang menindas para nabi dan berusaha untuk membunuh mereka.

Alquran Surat Maryam Ayat 59

Allah Ta’ala berfirman,

اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ مِنۡ ذُرِّیَّۃِ اٰدَمَ ٭ وَمِمَّنۡ حَمَلۡنَا مَعَ نُوۡحٍ ۫ وَّمِنۡ ذُرِّیَّۃِ اِبۡرٰہِیۡمَ وَاِسۡرَآءِیۡلَ ۫ وَمِمَّنۡ ہَدَیۡنَا وَاجۡتَبَیۡنَا ؕ اِذَا تُتۡلٰی عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتُ الرَّحۡمٰنِ خَرُّوۡا سُجَّدًا وَّبُکِیًّا ﴿ٛ۵۹﴾

Artinya: “Mereka inilah orang-orang yang Allah telah memberi nikmat atas mereka dari antara para nabi, dari keturunan Adam, dan dari antara (keturunan) orang-orang yang Kami angkut (dalam bahtera) bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan (mereka itu) di antara orangorang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Tatkala ayat-ayat Yang Maha Pemurah dibacakan kepada mereka, mereka merebahkan diri (dalam) bersujud (di hadapan Allah) dan menangis.” (QS 019:059)

Alquran Surat An-Naml Ayat 63

Allah Ta’ala berfirman,

اَمَّنۡ یُّجِیۡبُ الۡمُضۡطَرَّ اِذَا دَعَاہُ وَیَکۡشِفُ السُّوۡٓءَ وَیَجۡعَلُکُمۡ خُلَفَآءَ الۡاَرۡضِ ؕ ءَاِلٰہٌ مَّعَ اللّٰہِ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تَذَکَّرُوۡنَ ﴿ؕ۶۳﴾

Artinya: “Atau, siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang sengsara apabila ia berdoa kepadaNya dan melenyapkan keburukan, dan menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi? Adakah tuhan lain bersama Allah? Sangat sedikit kamu mengambil nasihat.” (QS 027:063)

Penjelasan: Sebagaimana kekuasaan-kekuasaan besar Tuhan terjelma di dalam keajaiban bekerjanya hukum-hukum alam (dalam ayat sebelumnya), demikianlah kekuasaan-kekuasaan itu terwujud dalam katahati atau kesadaran batin manusia, ketika ia menangis kepada Tuhan sementara jiwanya tengah merana, dan Tuhan mendengar jeritannya.

Alquran Surat Ad-Dukhon Ayat 30

Allah Ta’ala berfirman,

فَمَا بَکَتۡ عَلَیۡہِمُ السَّمَآءُ وَالۡاَرۡضُ وَمَا کَانُوۡا مُنۡظَرِیۡنَ ﴿٪۳۰﴾

Artinya: “Dan, langit serta bumi tidak menangisi mereka dan mereka tidak pula diberi tangguh.” (QS 044:030)

Penjelasan: Mereka menjumpai nasib malang mereka dalam keaiban dan kehinaan, tidak diratapi, tanpa penghormatan dan tanpa sanjungan. Raja bernasib malang yang dalam kesombongannya menyebut dirinya “Tuhan” itu tenggelam ke dalam laut (QS.10:91) dengan mengucapkan kata-kata yang terkenangkan, “Aku percaya bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, yang kepadaNya Bani Israil beriman.”

Alquran Surat An-Najm Ayat 44

Allah Ta’ala berfirman,

وَاَنَّہٗ ہُوَ اَضۡحَکَ وَاَبۡکٰی ﴿ۙ۴۴﴾

Artinya: “Dan bahwasanya Dia-lah Yang membuat (orang-orang) tertawa dan membuat (mereka) menangis.” (QS 053:044)

Alquran Surat An-Najm Ayat 57 sampai 63

Allah Ta’ala berfirman,

ہٰذَا نَذِیۡرٌ مِّنَ النُّذُرِ الۡاُوۡلٰی ﴿۵۷﴾ اَزِفَتِ الۡاٰزِفَۃُ ﴿ۚ۵۸﴾ لَیۡسَ لَہَا مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ کَاشِفَۃٌ ﴿ؕ۵۹﴾ اَفَمِنۡ ہٰذَا الۡحَدِیۡثِ تَعۡجَبُوۡنَ ﴿ۙ۶۰﴾ وَتَضۡحَکُوۡنَ وَلَا تَبۡکُوۡنَ ﴿ۙ۶۱﴾ وَاَنۡتُمۡ سٰمِدُوۡنَ ﴿۶۲﴾ فَاسۡجُدُوۡا لِلّٰہِ وَاعۡبُدُوۡا ﴿٪ٛ۶۳﴾

Artinya: “(Rasul Kami) ini adalah pemberi ingat seperti para pemberi ingat yang terdahulu. (Saat) pembalasan (itu) kian mendekat. Tiada baginya selain Allah yang dapat mengelakkan. Maka apakah kamu heran atas pemberitaan ini? Dan kamu tertawa dan tidak menangis? Sedangkan kamu keheran-heranan? Maka bersujudlah kepada Allah dan beribadahlah (kepada-Nya).” (QS 053:057-063)

Penjelasan: Agaknya ketika Rasulullah Saw usai membacakan surah ini di hadapan majelis yang terdiri dari orang-orang Muslim dan orang-orang kafir, dan bersujud bersama-sama dengan para pengikut beliau, orang-orang kafir juga — karena terkesan oleh kekhidmatan pembacaan ayat-ayat suci AlQur’an, begitu pula oleh kebesaran dan keagungan Tuhan — mungkin telah ikut bersujud pula. Hal ini bukan hal yang tidak mungkin, karena mereka menganggap Tuhan sebagai Tuhan yang Mahatinggi dan Pencipta, sedangkan dewa-dewa mereka sendiri hanya sebagai perantara antara mereka dengan Dia belaka (QS.10 ayat 19). Tetapi, dengan menggabungkan kejadian yang dapat dipercaya ini dengan hikayat yang tidak berdasar dijalin sekitar ayat-ayat ke-20-22 oleh beberapa orang yang “panjang akal,” tukang-tukang fitnah terhadap Rasulullah saw, telah mengajak diri mereka sendiri menemukan di dalamnya suatu “kealpaan” beliau.

Sabda Hadhrat Rasulullah (saw)

Hadits Riwayat Al-Bukhari - Menangis yang Diperbolehkan

Diriwayatkan,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ اشْتَكَى سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ شَكْوَى لَهُ فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ مَعَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَسَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَلَمَّا دَخَلَ عَلَيْهِ فَوَجَدَهُ فِي غَاشِيَةِ أَهْلِهِ فَقَالَ قَدْ قَضَى قَالُوا لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَبَكَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَأَى الْقَوْمُ بُكَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَكَوْا فَقَالَ أَلَا تَسْمَعُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يُعَذِّبُ بِدَمْعِ الْعَيْنِ وَلَا بِحُزْنِ الْقَلْبِ وَلَكِنْ يُعَذِّبُ بِهَذَا وَأَشَارَ إِلَى لِسَانِهِ أَوْ يَرْحَمُ وَإِنَّ الْمَيِّتَ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ

Artinya: dari ‘Abdullah bin Umar radliallahu ‘anhuma berkata; Ketika Saad bin Ubadah sedang sakit, Nabi Shallallahu’alaihiwasallam menjenguknya bersama ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Saad bin Abu Waqqash dan ‘Abdullah bin Mas’ud radliallahu ‘anhum. Ketika Beliau menemuinya, Beliau mendapatinya sedang dikerumuni keluarganya, Beliau bertanya, “Apakah ia sudah meninggal?”. Mereka menjawab, “Belum, wahai Rasulullah”. Lalu Nabi Shallallahu’alaihiwasallam menangis. Ketika orang-orang melihat Nabi Shallallahu’alaihiwasallam menangis, mereka pun turut menangis, maka Beliau bersabda, “Tidakkah kalian mendengar bahwa Allah tidak mengadzab dengan tangisan air mata, tidak dengan hati yang bersedih, namun Dia mengadzab dengan ini, “ lalu Beliau menunjuk lidahnya, atau dirahmati (karena lisan itu) dan sesungguhnya mayat itu diadzab disebabkan tangisan keluarganya kepadanya” (H.R. Al-Bukhari) [3]

Hadits Riwayat Al-Bukhari - Menangis Ketika Berada di Tempat yang Pernah Terkena Azab

Diriwayatkan,

أَنَّ ابْنَ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَدْخُلُوا مَسَاكِنَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ إِلَّا أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ أَنْ يُصِيبَكُمْ مِثْلُ مَا أَصَابَهُمْ

Artinya: bahwa Ibnu Umar berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang telah menzhalimi diri mereka sendiri kecuali jika dengan menangis, karena dikhawatirkan terkena mushibah seperti yang menimpa mereka”. (H.R. Al-Bukhari) [4]

Hadits Riwayat Al-Bukhari - Menangis karena takut kepada Allah

Diriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ رَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Artinya: …dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Tujuh golongan yang akan dinaungi Allah (salah satunya) adalah seseorang yang berdzikir kepada Allah hingga meneteskan air matanya.” (H.R. Al-Bukhari) [5]

Hadits Riwayat Al-Bukhari - Sedikit Tertawa dan Banyak Menangis

Diriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا وَلَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا

Artinya: dari Abu Hurairah menuturkan; Abul Qasim (Rasulullah) Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, kalaulah kalian tahu yang kutahu, sungguh kalian banyak menangis dan sedikit tertawa.” (H.R. Al-Bukhari) [6]

Hadits Riwayat Al-Bukhari - Menangis Ketika Shalat

Diriwayatkan,

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي مَرَضِهِ مُرُوا أَبَا بَكْرٍ يُصَلِّي بِالنَّاسِ قَالَتْ عَائِشَةُ قُلْتُ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ إِذَا قَامَ فِي مَقَامِكَ لَمْ يُسْمِعْ النَّاسَ مِنْ الْبُكَاءِ

Artinya: dari ‘Aisyah Ummul Mukminin, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata saat dalam kondisi sakitnya, “Suruhlah Abu Bakar untuk memimpin shalat orang-orang.” ‘Aisyah berkata, “Aku lalu berkata, “Jika Abu Bakar menggantikan posisi tuan, tidak akan mampu memperdengarkan suara bacaannya kepada orang banyak karena dia mudah menangis (dalam shalat)… (H.R. Al-Bukhari) [7]

Hadits Riwayat Abu Dawud - Menangisi Jenazah

Diriwayatkan,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وُلِدَ لِي اللَّيْلَةَ غُلَامٌ فَسَمَّيْتُهُ بِاسْمِ أَبِي إِبْرَاهِيمَ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ قَالَ أَنَسٌ لَقَدْ رَأَيْتُهُ يَكِيدُ بِنَفْسِهِ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَمَعَتْ عَيْنَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ تَدْمَعُ الْعَيْنُ وَيَحْزَنُ الْقَلْبُ وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يُرْضِي رَبَّنَا إِنَّا بِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ

Artinya: dari Anas bin Malik ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya tadi malam anakku lahir, kemudian aku menamainya dengan nama ayahku yaitu Ibrahim…” kemudian ia menyebutkan hadits tersebut. Anas berkata; sungguh aku melihat anak tersebut mengalami sakarat di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian kedua mata beliau mencucurkan air mata. Kemudian beliau (saw) bersabda, “Mata menangis dan hati bersedih, dan kami tidak mengucapkan kecuali apa yang membuat Tuhan kami ridha. Sesungguhnya kami sangat bersedih terhadapmu wahai Ibrahim.” (H.R. Abu Dawud) [8]

Hadits Riwayat Abu Dawud - Menangis Ketika Ziarah Kubur

Diriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أَتَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْرَ أُمِّهِ فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي تَعَالَى عَلَى أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي فَاسْتَأْذَنْتُ أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأَذِنَ لِي فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ بِالْمَوْتِ

Artinya: dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang ke kuburan ibunya, kemudian beliau menangi, dan orang-orang yang ada di sekitarnya menangis. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya aku telah meminta izin kepada Tuhanku ta’ala untuk memintakan ampunan baginya, namun aku tidak diperkenankan. Lalu aku meminta izin untuk mengunjungi kuburannya, lalu aku Dia memberiku izin. Maka ziarahilah kubur, karena sesungguhnya kuburan tersebut akan mengingatkanmu kepada kematian.” (H.R. Abu Dawud) [9]

Hadits Riwayat Ibnu Majah - Menangis Ketika Mendengar Ayat Alquran (I)

Diriwayatkan,

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ السَّائِبِ قَالَ قَدِمَ عَلَيْنَا سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ وَقَدْ كُفَّ بَصَرُهُ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَقَالَ مَنْ أَنْتَ فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ مَرْحَبًا بِابْنِ أَخِي بَلَغَنِي أَنَّكَ حَسَنُ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ نَزَلَ بِحُزْنٍ فَإِذَا قَرَأْتُمُوهُ فَابْكُوا فَإِنْ لَمْ تَبْكُوا فَتَبَاكَوْا وَتَغَنَّوْا بِهِ فَمَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِهِ فَلَيْسَ مِنَّا

Artinya: dari ‘Abdurrahman bin As Sa’ib ia berkata, Sa’d bin Abu Waqash datang menemui kami sementara matanya telah buta, maka aku pun mengucapkan salam kepadanya, ia berkata, “Siapa kamu?” maka aku pun kabarkan kepadanya (siapa kami). Ia pun berkata, “Selamat datang wahai anak saudaraku, telah sampai kepadaku bahwa suaramu bagus ketika membaca Al Qur’an. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Al Qur’an turun dengan kesedihan, jika kalian membacanya maka bacalah dengan menangis, jika kalian tidak bisa menangis maka berpura-puralah untuk menangis. Dan lagukanlah dalam membaca, barangsiapa tidak melagukannya maka ia bukan dari golongan kami. “ (H.R. Ibnu Majah) [10]

Hadits Riwayat Ibnu Majah - Menangis di Hajar Aswad

Diriwayatkan,

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ اسْتَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَجَرَ ثُمَّ وَضَعَ شَفَتَيْهِ عَلَيْهِ يَبْكِي طَوِيلًا ثُمَّ الْتَفَتَ فَإِذَا هُوَ بِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ يَبْكِي فَقَالَ يَا عُمَرُ هَاهُنَا تُسْكَبُ الْعَبَرَاتُ

Artinya: dari Ibnu ‘Umar, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap Hajar Aswad kemudian meletakkan kedua bibirnya kepadanya, dan beliau menangis lama sekali, kemudian dia berpaling, dan ternyata dia menemukan ‘Umar dalam keadaan menangis pula, beliau (saw) bersabda, ‘Wahai Umar, di sinilah ditumpahkan air mata.’” (H.R. Ibnu Majah) [11]

Hadits Riwayat Ibnu Majah - Banyak Tertawa Akan Mematikan Hati

Diriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

Artinya: …dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.” (H.R. Ibnu Majah) [12]

Hadits Riwayat Ibnu Majah - Menangis Ketika Mendengar Ayat Alquran (II)

Diriwayatkan,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَأْ عَلَيَّ فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ بِسُورَةِ النِّسَاءِ حَتَّى إِذَا بَلَغْتُ { فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا } فَنَظَرْتُ إِلَيْهِ فَإِذَا عَيْنَاهُ تَدْمَعَانِ

Artinya: dari Abdullah dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepadaku, “Bacakanlah (ayat) untukku! “ Maka saya membaca surat An Nisaa, ketika sampai ayat, ‘(Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu) ‘ (Qs. An Nisaa 42 dengan basmallah), maka saya melihat kedua air mata beliau (saw) meneteskan air mata.” (H.R. Ibnu Majah) [13]

Hadits Riwayat Ibnu Majah - Mengingat kematian

Diriwayatkan,

عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جِنَازَةٍ فَجَلَسَ عَلَى شَفِيرِ الْقَبْرِ فَبَكَى حَتَّى بَلَّ الثَّرَى ثُمَّ قَالَ يَا إِخْوَانِي لِمِثْلِ هَذَا فَأَعِدُّوا

Artinya: …dari Al Barra dia berkata, “Kami pernah mengantar jenazah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau duduk di sisi kuburan dan menangis hingga membasahi tanah. Beliau bersabda, “Wahai saudaraku, bersiap-siaplah untuk hal seperti ini.” (H.R. Ibnu Majah) [14]

Hadits Riwayat Ibnu Majah - Berusalah untuk Menangis

Diriwayatkan,

عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ابْكُوا فَإِنْ لَمْ تَبْكُوا فَتَبَاكَوْا

Artinya: …dari Sa’d bin Abu Waqash dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Menagislah kalian, jika tidak bisa menangis maka berusalah untuk menangis.” (H.R. Ibnu Majah) [15]

Hadits Riwayat Ibnu Majah - Air Mata yang Membebaskan dari Neraka

Diriwayatkan,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ عَبْدٍ مُؤْمِنٍ يَخْرُجُ مِنْ عَيْنَيْهِ دُمُوعٌ وَإِنْ كَانَ مِثْلَ رَأْسِ الذُّبَابِ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ثُمَّ تُصِيبُ شَيْئًا مِنْ حُرِّ وَجْهِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

Artinya: …dari Abdullah bin Mas’ud dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang mukmin mengeluarkan air mata dari kedua matanya walaupun sebesar kepala ekor lalat karena takut kepada Allah, kemudian ia mengenai wajahnya melainkan Allah akan membebaskannya dari neraka.” (H.R. Ibnu Majah) [16]

Hadits Riwayat Muslim - Larangan Menangis dengan Meraung-raung

Diriwayatkan,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ اشْتَكَى سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ شَكْوَى لَهُ فَأَتَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ مَعَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَسَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ فَلَمَّا دَخَلَ عَلَيْهِ وَجَدَهُ فِي غَشِيَّةٍ فَقَالَ أَقَدْ قَضَى قَالُوا لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَبَكَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَأَى الْقَوْمُ بُكَاءَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَكَوْا فَقَالَ أَلَا تَسْمَعُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يُعَذِّبُ بِدَمْعِ الْعَيْنِ وَلَا بِحُزْنِ الْقَلْبِ وَلَكِنْ يُعَذِّبُ بِهَذَا وَأَشَارَ إِلَى لِسَانِهِ أَوْ يَرْحَمُ

Artinya: dari Abdullah bin Umar ia berkata; Sa’ad bin Ubadah pernah mengeluhkan rasa sakit yang dideritanya, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama Abdur Rahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin Mas’ud menjenguknya. Ketika beliau hendak masuk ternyata ia sedang dikerumuni keluarganya, maka beliau pun bertanya, “Apakah ia telah meninggal dunia?” Para sahabat menjawab, “Belum wahai Rasulullah.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meneteskan air mata. Melihat beliau menangis, para sahabatpun ikut menangis. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dengarkanlah oleh kalian, sesungguhnya Allah tidak mengadzab seseorang karena disebabkan tangisan atau perasaan sedih (dari orang yang ditinggalkannya) akan tetapi Dia mengadzab karena disebabkan oleh ini (beliau memberi isyarat pada lisannya), atau Dia akan mengasihinya.” (H.R. Muslim) [17]

Hadits Riwayat Muslim - Menangisi Jenazah yang Diperbolehkan

Diriwayatkan,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وُلِدَ لِي اللَّيْلَةَ غُلَامٌ فَسَمَّيْتُهُ بِاسْمِ أَبِي إِبْرَاهِيمَ ثُمَّ دَفَعَهُ إِلَى أُمِّ سَيْفٍ امْرَأَةِ قَيْنٍ يُقَالُ لَهُ أَبُو سَيْفٍ فَانْطَلَقَ يَأْتِيهِ وَاتَّبَعْتُهُ فَانْتَهَيْنَا إِلَى أَبِي سَيْفٍ وَهُوَ يَنْفُخُ بِكِيرِهِ قَدْ امْتَلَأَ الْبَيْتُ دُخَانًا فَأَسْرَعْتُ الْمَشْيَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا أَبَا سَيْفٍ أَمْسِكْ جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمْسَكَ فَدَعَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالصَّبِيِّ فَضَمَّهُ إِلَيْهِ وَقَالَ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ فَقَالَ أَنَسٌ لَقَدْ رَأَيْتُهُ وَهُوَ يَكِيدُ بِنَفْسِهِ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَمَعَتْ عَيْنَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ تَدْمَعُ الْعَيْنُ وَيَحْزَنُ الْقَلْبُ وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا وَاللَّهِ يَا إِبْرَاهِيمُ إِنَّا بِكَ لَمَحْزُونُونَ

Artinya: dari Anas bin Malik dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Pada suatu malam anakku lahir, yaitu seorang bayi laki-laki, lalu kuberi nama dengan nama bapakku, Ibrahim. Kemudian anak itu beliau berikan kepada Ummu Saif, isteri seorang pandai besi, yang bernama Abu Saif. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatanginya dan aku ikut menyertai beliau. Ketika kami sampai di rumah Abu Saif, aku dapatkan dia sedang meniup Kirnya (alat pemadam besi) sehingga rumah itu penuh dengan asap. Maka aku segera berjalan di depan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu kuberi tahu Abu Saif; “Hai, Abu Saif! Berhentilah! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah datang!” Maka dia pun berhenti. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menanyakan bayinya, lalu diserahkan ke pangkuan beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan kata-kata sayang apa saja yang Allah kehendaki. Kata Anas; “Kulihat bayi itu begitu tenang di pangkuan beliau saat ajal datang kepadanya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menangis mengucurkan air mata. Kata beliau, “Air mata boleh mengalir, hati boleh sedih, tetapi kita tidak boleh berkata-kata kecuali yang diridlai Rabb kita. Demi Allah, wahai Ibrahim, kami sungguh sedih karenamu!” (H.R. Muslim) [18]

Hadits Riwayat An-Nasai - Menangis Ketika Shalat

Diriwayatkan,

عَنْ مُطَرِّفٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُصَلِّي وَلِجَوْفِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ الْمِرْجَلِ يَعْنِي يَبْكِي

Artinya: dari Mutharrif dari bapaknya, dia berkata; “Aku datang kepada Nabi Shallallahu’alaihiwasallam yang sedang shalat dan dalam dadanya terdengar suara seperti air yang mendidih dalam periuk - yakni beliau menangis.” (H.R. An-Nasai) [19]

Hadits Riwayat At-Tirmidzi - Mengingat Kematian

Diriwayatkan,

فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنْزِلٍ مِنْ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ قَالَ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا رَأَيْتُ مَنْظَرًا قَطُّ إِلَّا الْقَبْرُ أَفْظَعُ مِنْهُ

Artinya: 'Utsman berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Sesungguhnya makam adalah tempat akhirat pertama, bila seseorang selamat darinya maka setelahnya lebih mudah dan bila tidak selamat darinya maka setelahnya lebih sulit.” ‘Utsman berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Aku tidak melihat suatu pemandang pun melainkan pemakaman lebih mengerikan.” (H.R. At-Tirmidzi) [20]

Hadits Riwayat At-Tirmidzi - Keutamaan Menangis Karena Takut kepada Allah

Diriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَلِجُ النَّارَ رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ حَتَّى يَعُودَ اللَّبَنُ فِي الضَّرْعِ وَلَا يَجْتَمِعُ غُبَارٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَدُخَانُ جَهَنَّمَ

Artinya: …dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Tidak masuk neraka orang yang menangis karena takut Allah hingga susu kembali lagi ke kantung susu dan tidaklah menyatu debu dijalan Allah dan debu jahannam.” (H.R. At-Tirmidzi) [21]

Hadits Riwayat At-Tirmidzi - Menangis Ketika di Mimbar

Diriwayatkan,

قَالَ قَامَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ عَلَى الْمِنْبَرِ ثُمَّ بَكَى فَقَالَ قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْأَوَّلِ عَلَى الْمِنْبَرِ ثُمَّ بَكَى فَقَالَ اسْأَلُوا اللَّهَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فَإِنَّ أَحَدًا لَمْ يُعْطَ بَعْدَ الْيَقِينِ خَيْرًا مِنْ الْعَافِيَةِ

Artinya: Abu Bakr Ash Shiddiq berkata; di atas mimbar, kemudian menangis, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri pada tahun pertama di atas mimbar, kemudian menangis. Kemudian beliau berkata, “Mintalah ampunan dan keselamatan kepada Allah, sesungguhnya salah seorang diantara kalian tidak diberi sesuatu yang lebih baik setelah keyakinan daripada keselamatan.” (H.R. At-Tirmidzi) [22]

Hadits Riwayat At-Tirmidzi - Menangisi Jenazah yang Diperbolehkan

Diriwayatkan,

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ أَخَذَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ فَانْطَلَقَ بِهِ إِلَى ابْنِهِ إِبْرَاهِيمَ فَوَجَدَهُ يَجُودُ بِنَفْسِهِ فَأَخَذَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعَهُ فِي حِجْرِهِ فَبَكَى فَقَالَ لَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ أَتَبْكِي أَوَلَمْ تَكُنْ نَهَيْتَ عَنْ الْبُكَاءِ قَالَ لَا وَلَكِنْ نَهَيْتُ عَنْ صَوْتَيْنِ أَحْمَقَيْنِ فَاجِرَيْنِ صَوْتٍ عِنْدَ مُصِيبَةٍ خَمْشِ وُجُوهٍ وَشَقِّ جُيُوبٍ وَرَنَّةِ شَيْطَانٍ

Artinya: dari Jabir bin Abdullah berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menarik tangan Abdurrahman bin Auf pergi menemui anaknya, Ibrahim, tiba-tiba beliau mendapatinya sudah meninggal. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menggendongnya sambil menangis, Abdurrahman bertanya; ‘Kenapa engkau menangis, bukankah engkau melarang (kami) untuk menangisi mayit? ‘ (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) menjawab, “Tidak mengapa, yang saya larang adalah dua suara orang bodoh dan berdosa. Yaitu menangis dengan suara-suara ratapan sambil mencakar-cakar muka, merobek-robek saku, dan suara ratapan seperti suara ratapan setan.” (H.R. At-Tirmidzi) [23]

Sabda Hadhrat Masih Mau’ud (as)

Sabda Para Khalifatul Masih

Lain-lain

Telah tercatat dalam sejarah bahwa ketika berada dalam gua Hadhrat Abubakar r.a. mulai menangis, dan ketika ditanya oleh Rasulullah Saw mengapa ia menangis, ia menjawab: “Aku tidak menangisi hidupku, ya Rasulullāh, sebab jika aku mati, ini hanya menyangkut satu jiwa saja, tetapi jika engkau mati, ini akan merupakan kematian Islam dan kematian seluruh umat Islam.” (Zurqānī) [24]

  • tidak bersuara

Referensi

  1. Wikipedia Indonesia - Menangis
  2. kamus Almaany - Arab ke Indonesia - Menangis
  3. Hadits Al-Bukhari, Kitab Jenazah, Menangis di Samping Orang Yang Sakit
  4. Hadits Al-Bukhari, Kitab Hadits-hadits yang meriwayatkan tentang para Nabi, Firman Allah “Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka shalih…”
  5. Hadits Al-Bukhari, Kitab Hal-hal yang melunakkan hati, Menangis karena takut kepada Allah
  6. Hadits Al-Bukhari, Kitab Sumpah dan Nadzar, Bagaimana sumpah nabi ShollAllahu ‘alaihi wa Salam
  7. Hadits Al-Bukhari, Kitab Adzan, Jika seorang imam menangis dalam shalatnya
  8. Hadits Abu Dawud, Kitab Jenazah, Manangisi Mayit
  9. Hadits Abu Dawud, Kitab Jenazah, Ziarah kubur
  10. Hadits Ibnu Majah, Kitab Mendirikan shalat dan sunah yang ada di dalamnya, Memperbagus suara saat membaca Al-Qur’an
  11. Hadits Ibnu Majah, Kitab Manasik, Mengusap Hajar Aswad
  12. Hadits Ibnu Majah, Kitab Zuhud, Sedih dan Menangis
  13. Hadits Ibnu Majah, Kitab Zuhud, Sedih dan Menangis
  14. Hadits Ibnu Majah, Kitab Zuhud, Sedih dan Menangis
  15. Hadits Ibnu Majah, Kitab Zuhud, Sedih dan Menangis
  16. Hadits Ibnu Majah, Kitab Zuhud, Sedih dan Menangis
  17. Hadits Muslim, Kitab Jenazah, Menangisi Mayit
  18. Hadits Muslim, Kitab Keutamaan, Kasih sayang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kepada anak kecil dan keluarganya
  19. Hadits An-Nasai, Kitab Sahwi, Menangis saat shalat
  20. Hadits At-Tirmidzi, Kitab Zuhud, Mengingat Kematian
  21. Hadits At-Tirmidzi, Kitab Zuhud, Keutamaan menangis karena takut kepada Allah
  22. Hadits At-Tirmidzi, Kitab Do’a, Doa nabi ShollAllahu ‘alaihi wa Salam
  23. Hadits At-Tirmidzi, Kitab Jenazah, Rukhsah Menangisi Mayyit
  24. Alquran dengan Terjemah dan Tafsir, Neratja Press, hlm. 700-701. Penjelasan ini merupakan tafsir dari QS At-Taubah (009): 040