Khotbah-huzur-20220107

Dari Media Isa
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Ringkasan Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu-minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 07 Januari 2022 (07 Sulh 1401 Hijriyah Syamsiyah/ 05 Jumadil Akhir 1443 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Islamabad, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya).

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ - أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۱﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿۲﴾ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿۳﴾ مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ ؕ﴿۴﴾ اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَاِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ؕ﴿۵﴾ اِہۡدِنَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ﴿۶﴾ صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۬ۙ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَلَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿۷﴾
وَمَثَلُ الَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ اَمۡوَالَہُمُ ابۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِ اللّٰہِ وَتَثۡبِیۡتًا مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ کَمَثَلِ جَنَّۃٍۭ بِرَبۡوَۃٍ اَصَابَہَا وَابِلٌ فَاٰتَتۡ اُکُلَہَا ضِعۡفَیۡنِ ۚ فَاِنۡ لَّمۡ یُصِبۡہَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ؕ وَاللّٰہُ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ بَصِیۡرٌ ﴿۲۶۶﴾

Terjemahan dari ayat ini adalah: “Dan perumpamaan orang-orang yang menginfakkan harta mereka demi mencari keridaan Allah dan memperteguh jiwa mereka adalah seperti perumpamaan kebun yang terletak di dataran tinggi, hujan lebat menimpanya lalu menghasilkan buahnya dua kali lipat, tetapi jika hujan lebat tidak menimpanya, maka hujan gerimis pun memadai. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [Al-Qur’an, Surah al-Baqarah, 2:266 dengan basmalah sebagai ayat pertama]

Di dalam ayat ini Allah Ta’ala menggambarkan keadaan orang-orang mukmin yang membelanjakan harta di jalan Allah Ta’ala demi meraih keridaan-Nya bahwa mereka adalah orang-orang yang membelanjakan harta di jalan Allah dengan tujuan supaya; pertama, mereka menjadi orang-orang yang meraih rida dan kesenangan Allah Ta’ala dengan membelanjakan harta di jalan-Nya sesuai dengan perintah-Nya; dan yang kedua, supaya memperkuat kaum mereka dan misi mereka.

Di zaman ini, tugas untuk menyebarkan ta’lim dan tabligh Islam telah diserahkan kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan ini juga merupakan kewajiban orang-orang yang telah menerima beliau (as) untuk mengorbankan jiwa, harta dan waktu untuk menyempurnakan misi Hadhrat Masih Mau’ud (as). Para Nabi yang datang di setiap zaman dan pada setiap kaum senantiasa menasihatkan para pengikutnya untuk mengorbankan harta dan Hadhrat Masih Mau’ud (as) juga bersabda, “Kalian hendaknya memberikan sebagian dari harta kalian di jalan agama untuk mengkhidmati agama, barulah kemudian keimanan yang sejati dapat diketahui.” Dan sesungguhnya orang-orang mukmin biasa memberikan pengorbanan-pengorbanan harta demi agama, dan tujuan dari pengorbanan-pengorbanan tersebut bukan untuk berbuat ihsan kepada seseorang, melainkan mereka berkeinginan supaya bagaimana Allah Ta’ala rida kepada mereka, jiwa mereka diberikan keteguhan, tercipta kekuatan dalam keimanan dan keyakinan mereka, kaum mereka meraih kemajuan, sebisa mungkin mereka menguatkan orang-orang yang lemah dengan harta mereka dan menjadi orang-orang yang meraih tujuan baiat mereka kepada Imam di zaman ini yang merupakan khaadim sejati Hadhrat Rasulullah (saw).

Alhasil, orang-orang yang seperti ini berpikir jauh di atas pemikiran-pemikiran duniawi. Jiwa mereka menarik perhatian mereka ke arah meraih rida Allah Ta’ala dengan melakukan pengorbanan-pengorbanan dan mereka meraih tolok ukur luhur pengorbanan atau terus berusaha untuk meraihnya, lalu Allah Ta’ala pun mengabulkan pengorbanan orang-orang yang seperti ini. Dia menganugerahkan karunia-karunia-Nya kepada mereka.

Allah Ta’ala mengetahui keadaan hati kita, Dia mengetahui niat-niat kita, oleh karena itu Dia tidak melihat apakah seseorang itu memberikan pengorbanan dengan jumlah nominal yang besar atau kecil, melainkan Allah Ta’ala memberikan ganjaran berdasarkan pada niatnya. Oleh karena itu, dalam ayat ini Allah Ta’ala berfirman, “Terdapat dua macam permisalan orang-orang yang membelanjakan harta demi Allah Ta’ala, yang pertama seperti waabil, yakni hujan yang deras. Dan yang kedua, seperti thall, yakni hujan gerimis atau embun. Orang yang memiliki kelapangan harta, ia membelanjakan harta demi agama dalam jumlah yang banyak atau ia mampu melakukannya, namun orang yang miskin mungkin memiliki hasrat dan pemikiran ini bahwa orang kaya terus meningkat dalam pengorbanan harta dengan membelanjakan hartanya. Ia memberikan pengorbanan dalam jumlah-jumlah yang besar lalu menjadi orang yang meraih rida Allah Ta’ala dan meraih kedekatan-Nya, atau sedang berusaha meraihnya atau akan meraihnya. Sedangkan saya memiliki harta sedikit, bagaimana saya bisa menyamainya.”

Maka Allah Ta’ala berfirman, “Sebagaimana tanah yang subur dapat mengambil manfaat dari hujan gerimis atau embun, demikian juga pengorbanan yang sedikit dari mereka yang memiliki kelapangan harta memiliki kedudukan sebagai thall (hujan gerimis, embun), dan pengorbanan yang kecil ini pun akan tetap memberikan peranan yang tidak sedikit dalam menghasilkan buah.”

Allah Ta’ala-lah yang akan memberikan buah dari pengorbanan-pengorbanan, Dia-lah yang akan memberikan buah pada setiap amalan. Kemudian, Allah Ta’ala Maha mengetahui keadaan dan niat-niat kalian sehingga Dia akan memberikan ganjaran dua kali lipat atas pengorbanan-pengorbanan kecil kalian, bahkan lebih dari itu.

Pada satu kesempatan Hadhrat Rasulullah (saw) pernah bersabda, سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ أَلْفٍ “Hari ini 1 dirham telah mengungguli 100.000 dirham.”

Para sahabat bertanya, يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَيْفَ يَسْبِقُ دِرْهَمٌ مِائَةَ أَلْفٍ؟ “Ya Rasulullah (saw)! Bagaimana bisa seperti itu?”

Beliau (saw) bersabda, رَجُلٌ لَهُ دِرْهَمَانِ فَأَخَذَ أَحَدَهُمَا فَتَصَدَّقَ بِهِ، وَآخَرُ لَهُ مَالٌ كَثِيرٌ فَأَخَذَ مِنْ عَرَضِهَا مِائَةَ أَلْفٍ “Seseorang memiliki 2 dirham, lalu ia mengorbankan 1 dirham darinya. Sedangkan seseorang lainnya memiliki harta dan properti yang berlimpah, lalu ia mengorbankan 100.000 dirham darinya. Pengorbanannya yang sebesar 100.000 dirham itu sangat sedikit dibandingkan hartanya.” [1]

Alhasil, Allah Ta’ala memberikan ganjaran berdasarkan pada niat dan Dia memberikan ganjaran atas amalan yang dikerjakan dalam keadaan-keadaan semacam itu. Dia telah memberikan ketentraman pada orang-orang miskin supaya jangan beranggapan bahwa pengorbanan-pengorbanan mereka yang kecil tidak memiliki kedudukan, melainkan pengorbanan-pengorbanan yang kecil yang menguatkan keimanan mereka, ini pun akan menjadi sarana untuk memperkuat Jemaat juga. Alhasil, hanya pengorbanan-pengorbanan yang diberikan dengan suatu ghairat demi Allah Ta’ala-lah yang menarik karunia-karunia Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala melihat pada semua amalan kita, jadi kita hendaknya senantiasa mengedepankan tujuan ini bahwa pekerjaan apa pun yang kita lakukan, hendaknya kita melakukannya demi keridaan-Nya. Jika terbentuk pemikiran seperti ini, maka barulah seseorang ditetapkan sebagai pewaris hakiki karunia-karunia Allah Ta’ala.

Pada zaman Hadhrat Masih Mau’ud (as), kebanyakan pengikut beliau adalah orang-orang miskin, namun mereka sedemikian rupa melangkah maju dalam pengorbanan-pengorbanan, sehingga suatu kali Hadhrat Masih Mau’ud (as) memuji mereka: “Saya melihat, ratusan orang telah bergabung dengan Jemaat kita yang mereka sendiri kesulitan mendapatkan pakaian untuk tubuh mereka, kesulitan menyediakan cadar atau piyama untuk diri mereka sendiri dan tidak memiliki properti, namun dengan niat dan ketulusan mereka yang luar biasa, dengan kecintaan dan kesetiaan, dalam tabiat mereka timbul suatu hal yang mengherankan yang terpancar dari diri mereka dari waktu ke waktu, atau yang pengaruhnya tampak pada wajah mereka. Keimanan mereka begitu kokoh, keyakinan mereka begitu murni dan kejujuran serta keteguhan hati mereka sedemikian rupa tulus dan setia, sehingga jika orang-orang yang berharta dan para pemuja kenikmatan-kenikmatan duniawi mengetahui kelezatan ini, maka sebagai gantinya mereka akan siap untuk memberikan segalanya.”

Kemudian di satu tempat beliau (as) bersabda, “Kami melihat bahwa ada kemajuan yang signifikan dalam ketulusan dan kecintaan dalam Jemaat ini. Terkadang kami sendiri merasa takjub dan heran menyaksikan keikhlasan, kecintaan dan ghairat keimanan para anggota Jemaat dan bahkan hingga para musuh pun merasa takjub.”

Alhasil, kemajuan dalam kesetiaan dan keikhlasan serta tolok ukur luar biasa semangat keimanan ini sedemikian rupa, yang mana ungkapan dalam bentuk amalan nyata di hari ini pun nampak kepada kita dalam diri para anggota Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud (as). Bahkan, kemajuan dalam keikhlasan dan kesetiaan ini terjadi sedemikian rupa dalam diri para mubayi’in baru sehingga sekalipun mereka belum lama mendapatkan tarbiyat, sangat mengherankan bagaimana dalam waktu yang singkat tersebut, mereka telah meraih kemajuan sejauh itu, namun hubungan kecintaan dengan khaadim sejati Hadhrat Rasulullah (saw) dan kesetiaan pada Khilafat serta tolok ukur ketulusan mereka itu sedemikian rupa sehingga sebagaimana yang Hadhrat Masih Mau’ud (as) sabdakan, musuh pun merasa takjub apa yang telah menciptakan perubahan seperti ini dalam diri mereka. Sungguh ini merupakan karunia Allah Ta’ala yang khas atas mereka, yang Allah Ta’ala berikan pada mereka karena melihat fitrat baik serta ketaatan mereka. Perwujudan dari tabiat dan fitrat baik mereka serta penunaian hak baiat mereka, ekspresi dari hubungan kesetiaan mereka dengan Khalifah-e-Waqt, nampak dari perkataan dan amalan mereka.

Di masa ini, ketika dunia telah tenggelam dalam keduniaan, orang-orang ini melakukan pengorbanan-pengorbanan harta dan berusaha untuk saling berlomba satu sama lain supaya bisa meraih keridaan Allah Ta’ala, karena mereka telah meraih pemahaman bahwa salah satu sarana untuk meraih keridaan Allah Ta’ala adalah dengan membelanjakan harta di jalan Allah Ta’ala. Alhasil, siapakah yang bisa mengatakan mengenai Jemaat ini bahwa, Jemaat ini terus melemah, padahal Jemaat ini berdiri sesuai dengan janji-janji Allah Ta’ala melalui perantaraan Hadhrat Masih Mau’ud (as). Jemaat ini berdiri untuk maju dan berkembang, dan tidak ada satu pun serangan musuh yang bisa mendatangkan kerugian kepadanya sedikitpun dan dengan karunia Allah Ta’ala terus berkembang. Dalam pembahasan mengenai pengorbanan harta ini, saya akan sampaikan beberapa peristiwa mengenai bagaimana orang-orang menzahirkan keimanan dan keyakinan mereka dengan berkorban harta, dan kemudian bagaimana Allah Ta’ala pun menganugerahkan keteguhan dalam iman mereka.

Di Sierra Leone, suatu daerah yang jauh di Afrika, ada seseorang yang mengenainya Mubaligh Lokal di sana menuturkan bahwa beliau pergi melakukan kunjungan. Pada akhir bulan, beliau memberikan himbauan mengenai Waqfi Jadid kepada para anggota salah satu Jemaat di sana. Orang-orang hadir di masjid. Beliau memberikan himbauan, maka Imam di sana, Imam Syekh Utsman menyerahkan uang yang telah terkumpul dan berkata, “Kami tidak bisa memenuhi perjanjian kami dan kami memiliki keinginan yang tulus untuk memenuhi target dan perjanjian kami.”

Saat itu tidak ada sarana untuk melunasinya. Singkatnya, Pak Mu’allim mengatakan, “Berdoalah!”

Mubaligh Lokal menuturkan, “Saya memimpin doa dan semua orang mengucapkan amin dengan suara keras. Kemudian saya pulang ke rumah misi dengan naik motor.”

Beliau menuturkan, “Baru saja saya tiba di rumah misi, imam tersebut menelpon saya dan mengatakan, ‘Saya sedang menuju ke rumah misi untuk bertemu anda.’ Saya merasa heran, karena baru saja saya pulang dari sana, sekarang sudah menelpon lagi.

Ketika Imam Lokal itu tiba, beliau mengatakan, ‘Doa yang kami panjatkan itu dampaknya adalah, tidak berapa setelahnya, seorang kerabat saya datang. Ia merogoh sakunya lalu menyerahkan 100.000 leone ke tangan saya dan juga memohon doa mengenai suatu urusan kepada saya.’

Imam tersebut menuturkan, ‘Menyaksikan hal ini, di sana saya meneriakkan na’rae takbir dengan suara keras. Ada orang yang keheranan melihatnya mengatakan, “Apa yang terjadi dengan anda?” Saya menjelaskan bahwa kami memiliki perjanjian Waqfi Jadid yang sebagiannya belum terpenuhi. Baru saja kami selesai berdoa, Allah Ta’ala mengirimkan Anda dan Anda memberikan kepada saya uang ini.’”

Imam tersebut, yakni Syekh Utsman, segera datang menyerahkan seluruh 100.000 leone tersebut untuk candah Waqfi Jadid. Jumlah tersebut bagi beliau sangat besar, meskipun bagi kita sangat kecil, jika dikonversi hanya senilai 6,5 pound. Namun bagi beliau ini adalah pengorbanan yang sangat besar yang akan menyerap karunia-karunia Allah Ta’ala. Beliau mengikhlaskan semua uang yang beliau terima. Meskipun beliau memiliki keperluan pribadi, namun beliau tidak menyimpannya untuk diri beliau. Beliau segera datang dan menyerahkannya. Inilah contoh dari, “1 dirham mengungguli 100.000 dirham.” Sungguh pandangan kasih sayang Allah Ta’ala akan tertuju pada beliau.

Kemudian lihatlah, tolok ukur pengorbanan semacam ini tidak hanya terdapat di satu tempat, tidak hanya terdapat pada laki-laki, hal ini juga nampak pada kaum wanita. Chad yang merupakan sebuah negara, mubaligh di sana menuturkan, “Di sini pun dengan karunia Allah Ta’ala telah lahir suatu Jemaat yang sangat tulus. Sebagian besar anggota di sana adalah Mubayi’in baru. Ada seorang wanita, Ummu Hani, berjanji sebesar 70.000 franc untuk Waqfi Jadid. Beliau tidak mampu memenuhinya. Beliau mempunyai seekor unta. Beliau menjual unta itu seharga 170.000. Beliau melunasi perjanjian Waqfi Jadid dan sisanya tidak beliau simpan untuk diri beliau, melainkan diserahkan untuk pos-pos candah lainnya.”

Kemudian Togo, sebuah negara lainnya. Di sana ada seorang Ahmadi bernama Ibrahim. Beliau bekerja menggembala ternak milik orang lain. Beliau menggembala kambing dan sebagainya dan berapa pun penghasilan yang didapat, beliau biasa memberikan pengorbanan darinya dengan melebihi ketentuan. Beliau telah melakukan perjanjian, namun tidak dapat melunasi. Ada sungai di dekat sana, dari sungai tersebut biasa diambil pasir. Beliau di malam hari bekerja keras memenuhi truk pasir dan penghasilan yang didapat darinya beliau berikan untuk candah Waqfi Jadid. Mengapa beliau sedemikian rupa bekerja keras? Dan setelah sedemikian rupa melakukan kerja keras itu, mengapa beliau tidak menyisihkan sepeserpun untuk diri beliau sendiri? Ini semata-mata dikarenakan beliau  sekarang telah mendapatan pemahaman mengenai meraih ridho Allah Ta’ala.

Kemudian tidak hanya terbatas pada para laki-laki dan wanita dewasa atau yang sudah berumur, demikian jugalah halnya anak-anak yang sedang menuju masa remaja. Belize, sebuah negara di Amerika Tengah, ribuan mil jauhnya dari sini, Khalifah-e-Waqt belum pernah datang ke sana. Semuanya adalah para Ahmadi baru, namun mereka memiliki satu pemikiran. Baik itu dari Afrika, Amerika, kepulauan atau Asia, memiliki  satu pemikiran ini dan inilah revolusi yang Hadhrat Masih Mau’ud (as) telah ciptakan.

Peristiwanya sebagai berikut, ada seorang anak laki-laki berusia 14 tahun dan telah membayar candah Tahrik Jadid dan saya telah menceritakannya dalam suatu khutbah saya. Mengetahui hal itu, orang-orang pun mengucapkan mubarak kepada anak tersebut bahkan ada juga seseorang dari Kanada yang mengirimkan hadiah sebesar 200 Dollar. Ia mengatakan, “Kamu telah melakukan pengorbanan, ini ada hadiah dari saya.”

Sekarang lihatlah keadaan anak ini yang berusia 14 tahun. Kalau di sini, mungkin akan timbul keinginan untuk membeli game-game. Ia berkata, “Saya harus membuat kartu jaminan sosial saya, untuk hal tersebut saya memerlukan 30 dollar. Oleh karenanya, saya akan menyimpan 30 dollar. 170 dollar sisanya saya akan berikan untuk candah. Anak laki-laki ini berasal dari keluarga miskin.

Kepadanya juga telah disampaikan kepadanya, “Simpanlah untuk dirimu sendiri. Simpanlah untuk keperluanmu.” Telah dimohon dengan sangat supaya ia menyimpannya. Namun, ia sangat bersikeras memberikan semua uangnya untuk candah. Inilah yang dimaksud mengutamakan agama di atas dunia. Semoga pemikiran seperti ini tetap ada dalam diri anak tersebut dan semoga Allah Ta’ala menjaga anak tersebut dari pengaruh lingkungan duniawi.

Kemudian Jamaika, nama sebuah negara lain. Ada seorang Khadim bernama Yasin Sahib. Anak yang saya ceritakan tadi bernama Daniyal, dan yang sedang saya kisahkan ini bernama Yasin. Beliau telah lama menganggur lalu beliau berjualan permen, cokelat dan lain-lain di gang-gang, namun dalam keadaan seperti ini pun beliau selalu memikirkan, “Saya harus melakukan pengorbanan harta. Saya telah berjanji candah Waqfi Jadid dan tahun perjanjian akan berakhir, sedangkan saya tidak memiliki apa-apa.”

Akhirnya, pada sore hari tepat di hari terakhir bulan Desember, beliau datang kepada Bapak Mubaligh dan mengatakan, “Hari ini saya mendapatkan penghasilan sebesar 400 dollar Jamaika. Sekarang saya akan memberikan 25 persennya yaitu 100 Dolar kepada Anda untuk candah Waqfi Jadid.”

Kemudian lihatlah bagaimana contoh luar biasa yang dimiliki para Ahmadi dalam hal keikhlasan, ketaatan, serta semata meraih keridaan dan kecintaan Allah Ta’ala di suatu negeri yang miskin. Orang lain mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang buta huruf dan miskin, namun mereka adalah orang-orang yang lebih memahami agama dan kaya hati bahkan dibandingkan dengan mereka yang berpendidikan. Di negara Guinea Conakry, Mubalig in charge menuturkan, “Pada 10 hari terakhir tahun perjanjian Waqfi Jadid, saya berkhutbah tentang keutamaan dan keberkatan-keberkatan Waqfi Jadid. Saya pun menyertakan beragam kutipan dari khutbah Huzur dan menekankan anggota Jemaat akan pentingnya pengorbanan harta. Di akhir khutbah, Musa Sahib, seorang Ahmadi yang miskin namun sangat tulus, menyerahkan kurang lebih 218.500 Franc Guinea untuk pengorbanan Waqfi Jadid.

Ketika saya bertanya, apa sebabnya Anda memberikan jumlah yang besar seperti halnya tahun lalu, beliau menjawab, ‘Di dalam hati saya telah tertanam dengan sangat kuat sabda Khalifatul Masih bahwa dua cinta tidak mungkin tinggal di dalam satu hati. Apakah seseorang memilih mencintai Tuhan atau hartanya. Inilah sebabnya jika saya mendapat kesempatan saya berusaha untuk menzahirkannya juga dengan amalan saya.’ beliau berkata, ‘Saya tidak sanggup memiliki iman seperti Hadhrat Abu Bakar Siddiq (ra.) yaitu menyerahkan seluruh harta di jalan Allah. Yang saya sanggup adalah menyerahkan semua harta yang ada di saku saya ke jalan Allah, dan saya mohon doa semoga Allah Ta’ala pun menganugerahkan kepada saya keimanan seperti Hadhrat Abu Bakar (ra.).’

Ia berkata, “Alasan besar yang kedua adalah, sejak saya ambil bagian di dalam pengorbanan harta, Allah Ta’ala menganugerahkan saya harta keimanan yang melimpah, iman saya bertambah, dan ada perubahan luar biasa di dalam diri saya.’”

Inilah pemahaman yang tidak ada di banyak orang yang terpelajar sekalipun.

Kemudian tentang bagaimana Allah Ta’ala menganugerahkan sarana untuk peningkatan keimanan, terdapat satu lagi peristiwa di negara Guinea Conakry. Alhasan Sahib, seorang Ahmadi tulus dan terpandang di sana menuturkan, “Saya menyimpan uang untuk candah di amplop dan meletakkannya di atas meja. Karena pekerjaan dan kesibukan lainnya, saya tidak sempat mengirimkannya ke rumah misi. Seketika saya teringat dan saya segera memerintahkan supir saya untuk mengirimkannya ke rumah misi dan membayarkannya untuk candah, sementara itu saya pergi ke tempat lain untuk suatu pekerjaan. Ketika saya di luar, terjadi kebakaran di kantor yang berdampingan dengan kantor saya hingga habis terbakar. Saat itu telepon pun berdatangan, memberitahukan bahwa kantor saya telah terbakar sehingga saya harus segera ke sana.”

Beliau menuturkan, “Di dalam hati saya berpikir, bagaimana mungkin, saya baru saja memberi pengurbanan demi Allah Ta’ala.”

Beliau menuturkan, “Namun lihatlah bagaimana tanda dari Allah. Bagaimana Allah telah menjaganya, bahwa meskipun hanya dibatasi dinding saja dengan kantor sebelah, kantor saya sama sekali terjaga dan saat itu pun tengah ada banyak uang milik perusahaan. Ada dua kantor yang saling bersebelahan yang telah terbakar, namun kantor saya tidak.”

Beliau menuturkan, “Saat itu dengan segera saya teringat bahwa sesungguhnya ini pasti karena keberkatan candah.” (Beliau memiliki wawasan keilmuan yang dalam) “Saya pun teringat ilham kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as),

آگ سے ہمیں مت ڈرا۔ آگ ہماری غلام بلکہ غلاموں کی غلام ہے

‘Api adalah hamba engkau, bahkan juga hamba dari hamba engkau.’ [2]

Singkat kata ia menuturkan alhasil, Allah Ta’ala menjaga hamba yang lemah dari Hadhrat Masih Mau’ud (as) ini dari kerugian.

Kemudian ada peristiwa lain, Amir Sahib menuturkan: Ada muallim kami yang bertugas di Jemaat di satu wilayah, ia menyampaikan: Samboba Sahib, seorang anggota Jemaat kami, ketika ia mendengar khutbah saya [Huzur] tentang Waqfi Jadid, dimana saya menyampaikan tentang pengorbanan tahun lalu dan tahun yang baru, serta berbagai peristiwa pengorbanan, ia lalu menyerahkan 500 Dilasi.

Ia (mualim) menuturkan: Allah Ta’ala sedemikian rupa memberkatinya, bahwa panennya tahun ini menjadi 2 kali lipat. Ia sebelumnya berjanji 500 Dilasi, namun membayar sebesar 1000 Dilasi.

Ia (mualim) menuturkan: Pendapatannya dari mengurus tanah, zakat yang ia berikan dari hasil jawawut di tahun sebelumnya adalah 10 karung, namun dari pendapatannya di tahun ini, ia sampai dapat memberi zakat 50 karung. Ia pun membayar zakat untuk hasil kacangnya sebanyak 1 atau 2 karung. Ia adalah Ahmadi yang membayar candah secara teratur dan hasil tanamnya pun menjadi lebih baik dari sebelumnya. Orang gair Ahmadi pun berkata, “Pasti ada suatu hal dalam Jemaat Ahmadiyah bahwa kapanpun anggotanya membelanjakan hartanya di jalan Allah Ta’ala, maka hasil panen mereka pun bertambah”.

Hal ini tidak hanya terjadi pada Ahmadi atau mubayiin baru di Afrika atau di negara-negara miskin lain, namun ada juga contoh pengorbanan dari para Ahmadi di negara-negara maju, yaitu mereka yang memiliki keimanan. Mubalig Jerman menuturkan bahwa beliau telah menekankan tentang pentingnya candah di salah satu Jemaat yaitu Rudesheim. Ditekankan kepada mereka, “Tingkatkanlah candah dan jauhilah kekurangan yang ada!” Kemudian, istri ketua Jemaat (yang merupakan Ahmadi asli orang Jerman yang sangat tulus dan Ahmadi yang sudah cukup lama baiat), tatkala mubalig menyampaikan agar candah di Jemaatnya meningkat dan menghimbau agar mereka masuk ke dalam golongan yang membayar candah secara baik, ia yakni wanita Ahmadi yang sudah berbaiat tersebut  memberikan 19.000 Euro dan berkata, “Saya menyimpan uang tersebut untuk membeli mobil, namun hati saya sedemikian bergelora bagaimana supaya nama Jemaat kami tampil di hadapan wujud Khalifah. Maka saya pun menyerahkannya, semata demi meraih keridaan Allah Ta’ala. Kemudian masih di Jerman, ada seorang pelajar yang berjanji 500 Euro. Orang tuanya berkata, “Bagaimana bisa kamu dapat memenuhi janji 500 Euro ini?”

Ia berkata: Jawabannya datang dengan segera dari Allah Ta’ala yaitu dalam kurun waktu seminggu, saya ditelepon suatu Universitas yang mengatakan bahwa mereka telah memilih 40 pelajar dimana mereka akan diberikan uang saku oleh Universitas tersebut. Saya diminta nomor rekening untuk dikirimkan uang saku sejumlah 1000 Euro. Ia menuturkan, “Allah Ta’ala telah menggantinya 2 kali lipat untuk saya”.

Lalu contoh dari UK. Seorang Ahmadi bernama Balam Beg. Ada kekurangan pada target perjanjian Waqfi Jadidnya. Ia telah menambahkannya namun belum terpenuhi. Lalu ia berkata, “Keesokan harinya pertama-tama saya menerima surat dari local council yang menagih service charge dalam jumlah yang cukup banyak. Sejenak berpikir, datang pula pesan dari Waqfi Jadid. Maka pertama-tama saya pun membaya candah Waqfi Jadid. Keesokan harinya, datang lagi surat dari council berisi permohonan maaf. Mereka menulis bahwa surat sebelumnya tentang permintaan sejumlah uang tersebut adalah salah dan seharusnya bukan saya yang memberi tapi pihak council lah yang harus memberi sejumlah uang kepada saya”.

Ia menuturkan, “Jumlah uang tersebut adalah 10x lipat dari candah Waqfi Jadid yang saya serahkan”. Dengan cara demikianlah Allah Ta’ala, untuk mengukuhkan iman hamba-Nya, terkadang Dia mengembalikannya sendiri”.

Lalu tentang bagaimana Allah Ta’ala dengan segera menurunkan karunia-Nya, ada satu contoh di India di akhir tahun Waqfi Jadid di Jemaat Yadgir. Inspektur Sahib menuturkan, “Saat saya datang ke sana dan menekankan pada orang-orang tentang hal ini, saya mendatangi seorang khadim dan menyampaikan kepadanya tentang candah Waqfi jadid. Ia menjawab, ‘Saat ini di saku saya hanya ada 1500 rupis yang akan saya berikan untuk seseorang, dan sangat penting untuk memberinya. Lalu Anda meminta saya membayar Waqfi Jadid. Saya berpikir, apa yang sebaiknya saya lakukan. Jika saya menyerahkannya, bagaimana saya memberi orang tersebut, sementara saat ini sulit untuk mencari selainnya dengan segera.’ Alhasil ia berkata, ‘Tidak apa-apa, saya akan membayar candah saya.’ Ia pun menyerahkan 1500 rupees lalu pergi.”

Inspektur sahib menuturkan, “Keesokan hari, saya bertemu di tokonya bersama Sekretaris Waqfi Jadid. Ia mengeluarkan uang dari sakunya dan tampak sejumlah uang yang banyak. Ia berkata, “setelah saya membayar candah dan tiba di rumah, ada sejumlah uang yang saya terima dari beberapa tempat, dan saat ini ada beberapa ribu rupis di saya.” (Itu adalah sejumlah uang piutangnya dari beberapa orang) demikianlah Allah Ta’ala menganugerahkan karunia kepadanya.

Kemudian tentang orang-orang yang kaya (yaitu kaya dalam pandangan Jemaat, meskipun di pandangan dunia tidak mereka kaya), ada seorang Ahmadi di Jemaat Kerulai. Ia menyerahkan candah sebesar 1 juta rupis. Istrinya adalah seorang Ahmadi yang baiat dari Kristen. Ia sangat menaruh perhatian dalam hal doa dan shalat. Ia sangat tulus dan seorang Musiah. Suami istri tersebut adalah musi.

Inspektur Candah mengatakan, “Kami pergi ke rumahnya. Istrinya lantas menyerahkan cek sebesar 500 ribu rupis. Saya (Inspektur) berkata kepadanya, ‘Suami Anda baru saja menyerahkan 1 juta rupis, mengapa Anda  pun tetap menyerahkannya?’

Ia menjawab, ‘Nikmat apapun yang telah kami terima, itu adalah keberkatan-keberkatan dari candah. Maka dari itu saya ingin untuk berkali-kali memberi candah. Atas berkatnya lah bisnis saya pun mengalami kemajuan. Oleh karena itu, kami tidak akan mundur dalam hal candah.’”

Kemudian, Muballigh di Mali menulis, “Di banyak tempat, melalui radio Jemaat, kami telah menayangkan program-program tentang pentingnya pengorbanan harta dan Waqfi Jadid. Kami mengunjungi berbagai Jemaat, dan seluruhnya memberikan pengorbanan-pengorbanan mereka.

Seorang Mubayiin baru berkata, ‘Saat saya mendengar tentang gerakan membayar candah, saat itu saya tidak memiliki uang untuk diserahkan di jalan Allah. Saya berjanji bahwa saya pasti akan menyerahkan apapun coraknya itu kepada Jemaat Ahmadiyah, dan saya tidak akan terbelakang dari Ahmadi yang lain. Saya pergi ke hutan dan mengumpulkan cukup banyak ranting dan batang pohon lalu saya membuat arang darinya dan membawanya ke kampung saya.’

Tatkala Jemaat mengadakan kunjungan kepada beliau, beliau menyerahkan 20 karung arang tersebut sebagai candah. Orang miskin itu telah menyerahkan segenap kesanggupannya. Jumlahnya adalah 50 ribu Franc. Ia berkata, ‘Kini, saya sangat senang dapat ambil bagian dalam pengorbanan harta ini.’”

Di Polandia, seorang Ahmadi menulis, “Di akhir tahun, Murabbi sahib menekankan pada candah. Saat itu saya memiliki 100 Zloty (mata uang Polandia). Saat itu kuota internet habis dan bagaimana bisa menyimak pidato Hudhur – saat itu tengah ada Jalsah Qadian di tanggal 26, dan ia pun hendak menyimak pidato saya – hati saya berpikir bahwa saya pasti akan menyimaknya.”

Beliau menuturkan, “Alhasil saya membayar paket seharga 20 Zloty dan saya membayar candah untukanak istri saya sebesar masing-masing 28 Zloty, dan berjanji bahwa hingga akhir bulan tidak akan membeli apapun dan menggunakan apa saja yang ada di rumah untuk memenuhi kebutuhan. Meski demikian, jika ada, kami ingin memberikan lebih untuk candah.

Kami berdoa dan Allah Ta’ala pun menurunkan karunia-Nya. Di tanggal 28 Desember, saat saya pulang bekerja, teman saya yang sebelumnya hendak memberi saya 12 Zloty, ia memberikannya kepada saya. Setiba di rumah, saya memeriksa rekening tabungan saya dan melihat ada 1290 Zloty di dalamnya.

Selama saya bekerja 3 tahun di pabrik, ia belum pernah memberi tunjangan tambahannya kepada saya. Karena saya melunasi candah Waqfi Jadid, uang tersebut pun datang ke rekening saya.

Kini saya mendapat 1300 Zloty dan menyerahkan 300 zloty sebagai candah.

Karunia lain dari Allah adalah, di tempat mana putra saya bekerja, ia mendapatkan satu kali tambahan penghasilan yaitu di bulan oktober atau november. Di tahun ini di bulan Oktober, penghasilannya bertambah dan di tanggal 31 Desember, penghasilannya pun bertambah kembali. Dengan ini, keimanan kami pun menjadi bertambah.”

Di wilayah Syiyangga di Tanzania, ada satu Jemaat yang para mubayiin baru di sana secara berangsur-angsur ikut serta di gerakan pengorbanan harta. Muallim di sana menulis, “Ada seorang bernama Ramazan Sahib yang baru baiat tahun lalu. Ia menulis perjanjian Tahrik Jadid dan Waqfi Jadid sesuai kemampuannya. Di akhir tahun perjanjian, ia melunasinya sebesar 2x lipat. Selain itu, di kesempatan lain ia pun atas nama keluarga menyerahkan sebidang tanah kepada Jemaat.

Hal tersebut sangat mengherankan bagi orang lain di desa tempatnya tinggal. Beberapa orang dengan sinis berkata, ‘Orang ini tanpa pikir panjang akan menghabiskan seluruh kekayaannya untuk agama.’

Sementara itu, ia menuturkan kepada saya (sang Muallim), ‘Sesungguhnya, dengan masuk Jemaat Ahmadiyah lah saya dapat memahami pentingnya pengorbanan harta. Semenjak saya mulai berkorban di jalan Allah, saya banyak mendapatkan keberkatan dalam pekerjaan.’ Meski mendengar apapun ucapan orang, pada dasarnya di tahun ini ia mendapat taufik membeli beberapa bidang tanah di berbagai tempat dan mendirikan dua bangunan.”

Ini semua adalah berkat dari pengorbanan harta di jalan Allah Ta’ala dan menyerahkan tanah untuk Jemaat.

Kemudian ada peristiwa di Sierra Leone, bagaimana seorang mubayiin baru mengalami kemajuan. Ia berasal dari wilayah Port Loko. Mubalig di sana, Jibril Sahib menuturkan, “Saya tengah menekankan para mubayiin baru tentang gerakan waqfi jaded – di sana telah berdiri Jemaat baru yaitu para mubayiin baru – saat itu ada seorang wanita tua yang tidak dapat melihat datang kepada saya dengan dituntun oleh seorang anak lalu berkata, ‘Saya memang belum menulis perjanjian, tetapi saya datang untuk menyerahkan 2000 Lyon ini untuk candah Waqfi Jadid.’

Saya (Mubalig local) berkata, ‘Mengapa Anda menyusahkan diri untuk mendatangi saya? panggillah saya, saya akan datang ke tempat Anda.’

Ia menjawab (simaklah jawaban wanita tua itu yang memang tuna aksara), ‘Saya hanya memberikan jumlah yang ala kadarnya, mengapa sampai memanggil Anda? Saya ingin mencari pahala seutuhnya. karena itulah saya sendiri yang kemari untuk menyerahkannya.’”

Muballig daerah San Pedro, Pantai Gading menuturkan, “Ada seorang anggota Jemaat bernama Kolibali sahib menelepon saya untuk menanyakan perihal Waqfi dan Tahrik Jadid, beliau bertanya, ‘Apakah membayarkan candah atau meningkatkannya pada bulan Ramadhan perlu?’

Saya katakan kepada beliau: Sunnah Hadhrat Rasulullah (saw) dan kebiasaan Hadhrat Masih Mau’ud (as) pada bulan Ramadhan adalah melakukan infaq fi sabilillaah sebanyak banyaknya.

Saya pun menjelakan kepada beliau perihal keutamaannya dan juga perihal waqfi dan tahrik jadid yakni bagaimana uang tersebut dibelanjakan untuk misi penyebaran Islam.

Saya juga katakan bahwa memang ini tidak diwajibkan, namun kita hendaknya mengambil bagian dalam Gerakan pengorbanan harta Ketika Ramadhan sebanyak banyaknya sesuai dengan kemampuan.

Beliau yang sebelumnya biasa membayar candah setiap bulannya sebesar 20 ribu franc, lalu berjanji bahwa di masa yang akan datang, beliau akan membayar candah tambahan 30 ribu franc dengan dawam tidak hanya pada bulan Ramadhan saja bahkan setiap bulan bersamaan dengan candah candah sebelumnya. Uang tambahan akan beliau bayarkan secara khusus untuk waqfi dan tahrik jadid dan beliau pun berjanji, insya Allah hingga penutupan tahun ini akan berusaha untuk meningkatkan besarannya untuk candah waqfi jadid. Dengan karunia Allah Ta’ala beliau sejak paska Ramadhan hinga saat ini setiap bulannya beliau selalu membayar candah lazim pada awal bulan dengan sendirinya dan penuh keseriusan.”

Berkenaan dengan penyebaran Islam, barusan disinggung mengenai pembelanjaan, perlu saya sampaikan disini bahwa pada tahun lalu Allah Ta’ala memberikan taufik kepada Jemaat untuk membangun 187 mesjid. Selain itu 105 mesjid tengah dibangun di Afrika. Demikian pula telah berdiri 144 rumah misi yang Sebagian besarnya di Afrika dan 45 rumah misi tengah dalam proses pembangunan. Selain itu di tempat dimana kita tidak bisa membangun rumah misi segera, ditempat tersebut  kita menyewa bangunan-bangunan. Saat ini di negeri negeri Afrika kita tengah menyewa bangunan yang digunakan untuk 731 rumah misi dan rumah muballigh. Di negeri-negeri Asia juga kita menyewa 635 bangunan untuk rumah misi.

Perlu saya sampaikan bahwa pada umumnya sebagian besar dana yang diperoleh dari Waqfi Jadid dibelanjakan untuk mendanai negeri negeri Afrika. Sejauh berkenaan dengan pembangunan masjid dll, tidaklah semudah itu, karena dalam prosesnya kadang kita terpaksa menghadapi penentangan dari para penentang di beberapa tempat, namun Jemaat melakukan semua pekerjaan ini demi Allah Ta’ala dan juga terdapat janji Allah Ta’ala akan kemajuan Jemaat untuk itu pertolongan khas Allah Ta’ala pun senantiasa menyertai Jemaat.

Saya akan sampaikan satu kisah di Kongo Kinshasa. Muballignya menuturkan, “Terdapat satu Jemaat Bando Region, di daerah tersebut Jemaat baru berdiri dua tahun dan di sana masih berlangsung pembangunan masjid. Muslim Sunni di daerah tersebut menempuh segala cara untuk menimpakan penderitaan kepada Jemaat dan juga melayangkan protes ke kantor-kantor pemerintahan untuk menentang kita. Ketika rencananya tidak berhasil, mereka bahkan tidak segan segan untuk mengancam pembunuhan. Alhasil, bagaimanapun mereka tidak berhasil.

Di sisi lain, ada seorang Ahmadi yang bertugas sebagai pengawas pembangunan masjid mengatakan bahwa selama pembangunan masjid, ada seorang dosen universitas yang beragama Kristen yang datang menemui kita dan menawarkan bantuannya untuk membangun masjid, hingga beliau membantu para Ahmadi lainnya untuk mengambil pasir dari tempat yang jauh lalu menariknya dengan menggunakan gerobak secara bergotong royong. Alhasil, di satu sisi para penentang menempuh rencana jahatnya sementara Allah Ta’ala membantu kita dengan mempekerjakan orang lain. Orang-orang yang berfitrat baik datang seperti itu.”

Terdapat satu kisah dari Kamerun di sana terdapat satu kota bernama Bawada Sinej yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Di sana Jemaat baru berdiri 2 tahun lalu dan mulai membangun masjid. Jemaat menerima surat dari Administrator kota (pejabat setempat) yang berisi larangan untuk melanjutkan pembangunan masjid. Jemaat pun menghentikan pembangunan.

Setelah diselidiki ternyata suatu organisasi Islam bukan Ahmadiyah telah menulis surat yang ditujukan kepada Gubernur dan segenap pejabat terkait yang isinya menuduh Jemaat Ahmadiyah adalah Jemaat radikal dan tidak ada hubungannya dengan Islam sehingga tidak boleh membangun masjid.

Seperti inilah propaganda yang biasa dilakukan di negeri negeri Muslim. Para Maulwi (Ulama) mengadakan serangkaian perjalanan ke beberapa negeri Afrika tersebut dan melakukan hal-hal demikian. Kemudian Jemaat di sana menulis surat kepada saya dan menyibukkan diri untuk berdoa dan rabtah dll.

Dilaporkan oleh pengurus Jemaat, “Sebulan kemudian, pejabat Administrator memanggil kami ke kantornya dan juga para tokoh berbagai organisasi, Imam dan tokoh Muslim lainnya juga. Beliau (pejabat tersebut) membacakan laporan. Pejabat tersebut mengatakan, ‘Kami telah menghentikan pembangunan masjid proyek pembangunan berdasarkan protes sebagian umat Islam, namun seiring dengan itu kami pun meminta laporan dari berbagai daerah di Kamerun yang dari laporan tersebut kami mengetahui bahwa ternyata Jemaat Ahmadiyah adalah Jemaat Internasional dan tengah berkhidmat di lebih dari 200 negara di dunia dan juga telah berkhidmat di Kamerun sejak 15 tahun lalu. Jemaat Ahmadiyah juga telah membangun masjid di banyak tempat di Kamerun.’

Intinya, pak pejabat menyampaikan sepak terjang Jemaat. Selain itu beliau juga menjelaskan perihal pengkhidmatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Ahmadiyah bahwa Jemaat telah memasang alat yang menghasilkan air bersih di banyak daerah, pompa air, mengurusi anak anak yatim, membantu para siswa dalam bidang pendidikan dan selalu menyuarakan penentangannya terhadap grup-grup radikal dan teroris. Ahmadiyah juga mengajarkan kedamaian dan toleransi. Ahmadiyah juga tidak menyuarakan jihad dengan pedang, melainkan dengan pena. Pejabat tersebut mengumumkan semua itu di hadapan mereka.

Beliau juga menyampaikan, ‘Para raja dan pembesar Muslim biasa menghadiri jalsah Jalsah Jemaat Ahmadiyah sehingga tidak ada alasan untuk menghentikan pembangunan masjid mereka. Mereka bisa membangun mesjidnya di daerah kita.’

Setelah membacakan laporan tersebut, sekian banyak pemimpin Muslim di daerah itu berdiri dan mengatakan, ‘Ahmadiyah adalah kafir dan kami menganggapnya kafir. Anda telah membuat laporan tersebut tanpa mengkonfirmasi terlebih dahulu kepada kami, kami tidak meyakininya.’

Pejabat administrator berkata dengan nada marah kepada mereka, ‘Saya tahu apa yang saya lakukan, silahkan tinggalkan tempat ini!’

Akhirnya mereka bungkam dan beliau mempersilahkan Jemaat untuk melanjutkan pembangunan mesjidnya. Kesan positif peranan pengkhidmatan Jemaat Ahmadiyah memaksa orang-orang bijak memberikan pujian terhadap Jemaat. Ketika bekerja dengan didasari untuk menarik keridhaan Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala pun akan mengirimkan laskar penolong-Nya dan Dia sendiri akan menjauhkan hambatan yang diakibatkan oleh para penentang.

Mengenai bagaimana karunia Allah Ta’ala terus meningkat, akan saya sampaikan satu kisahnya. Ada satu laporan dari Upperwest Region Ghana, “Lebih dari 60 orang baiat berkat tabligh yang dilakukan. Di desa tersebut tedapat masjid Jemaat yang kecil dan masih berdindingkan batu bata. Setelah melihat keberhasilan Jemaat, Muslim non Ahmadi membangun masjid permanen dan indah persis berhadapan dengan masjid kita. Mereka juga berusaha untuk menarik Kembali para mubayyin baru dari kita dengan menggunakan masjid indah tersebut. Beberapa mubayyin baru yang lemah keimanannya berpindah ke masjid mereka.

Di kemudian hari Jemaat pun berhasil membangun masjid yang besar dan megah di di sana. Sekarang dengan karunia Allah Ta’ala para anggota kita datang ke masjid kita bahkan selain itu orang ghair Ahmadi pun mulai datang ke masjid kita dalam jumlah yang banyak sehingga masjid kita dipenuhi dengan jamaah, sedangkan masjid mereka mulai kosong lagi atau sangat kurang jamaahnya. Untuk talim dan tarbiyat para mubayyin baru di sana setiap harinya diadakan kelas-kelas. Dengan karunia Allah berkat itu kemajuan Jemaat semakin meningkat hari demi hari.”

Banyak sekali kisah yang memperlihatkan banyaknya karunia Allah Ta’ala. Allah Ta’ala maha memenuhi janji, Allah Ta’ala memenuhi janji yang Dia sampaikan kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan menolong juga dengan caracara ghaib dan akan terus menolong, insya Allah. Allah Ta’ala memberikan kesempatan kepada kita yakni untuk meraih keridhaanNya belanjakanlah harta dijalan Allah supaya menjadi pewaris karunia Allah Ta’ala. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita sehingga kita dapat menarik karunia karuniaNya.

Seperti biasa, sekarang saya akan menyajikan laporan singkat tentang Wakaf Jadid untuk tahun 2021 dan Tahun Baru [Waqf-e-Jadid] telah dimulai dari Januari 2022. Laporan untuk tahun sebelumnya adalah sebagai berikut: Dengan karunia Allah Ta’ala, tahun sebelumnya adalah tahun ke-64 dan pada tahun ini jumlah total pengorbanan Jemaat sebesar £ 11.277.000 (sebelas juta dua ratus tujuh puluh tujuh ribu Poundsterling) untuk Waqf-e-Jadid, yaitu sekitar £ 11,2 juta. Peningkatan sebesar £ 742.000 dari tahun sebelumnya.

Mengingat keadaan ekonomi dunia saat ini, ini adalah berkah besar dari Allah Ta’ala. Tahun ini, Jemaat Inggris kembali menempati posisi pertama dalam hal total kontribusi. Karena mata uang Pakistan sedang terpuruk, maka posisi mereka juga turun, tetapi meskipun demikian mereka memberikan pengorbanan yang sangat besar sesuai dengan kapasitas mereka. Bagaimanapun, dalam hal posisi, Inggris yang pertama diikuti oleh Jerman – dengan karunia Allah Ta’ala, Inggris telah melakukan pengorbanan yang signifikan dan ada kesenjangan yang cukup besar antara Inggris dan Jerman – posisi ketiga adalah Kanada , kemudian Amerika Serikat, India, Australia, Indonesia, Jemaat di Timur Tengah, Ghana dan kemudian Belgia.

Dalam hal kontribusi per kapita, Amerika Serikat adalah yang pertama, kemudian Swiss dan kemudian Inggris.

Dalam hal kontribusi keseluruhan di antara negara-negara Afrika, peringkat pertama adalah Ghana, Mauritius, Nigeria, Burkina Faso, Tanzania, Sierra Leone, Liberia, Gambia, Uganda, dan Benin berada di peringkat ke-10.

Alhamdulillah, jumlah peserta sebanyak 1.445.000.

Dalam hal pengumpulan keseluruhan, sepuluh Jemaat besar teratas di Inggris adalah: Islamabad, Farnham, Worcester Park, Cheam South, Aldershot, Birmingham south, Walsall, Gillingham, Guildford, Ewell.

Lima wilayah teratas dalam hal koleksi keseluruhan adalah Baitul Futuh ke-1, Islamabad ke-2, diikuti oleh Masjid Fazl, Baitul Ihsan kemudian Midlands.

Sepuluh Jama’at teratas dalam Daftar Atfal adalah Islamabad peringkat pertama, Aldershot peringkat kedua, kemudian Farnham, Roehampton, Guildford, Ewell, Mitcham Park, Baitul Futuh, Walsall dan Birmingham West.

Lima besar keamiran lokal dalam hal koleksi keseluruhan; Hamburg adalah ke-1, diikuti oleh Frankfurt, Gross-Gerau, Wiesbaden dan Dietzenbach.

Sepuluh Jemaat [Jerman] teratas dalam hal koleksi adalah: Rödermark adalah 1, Rodgau, Neuss, Rüdesheim, Mahdi-Abad, Friedberg, Hanau, Flörsheim, Frankenthal, Koblenz dan Nidda.

Dalam hal koleksi Daftar Atfal, lima wilayah teratas adalah Hamburg, Hessen Sudwesten, Taunus, Hessen Mitte, Rheinland-Pfalz.

Dalam hal koleksi keseluruhan, Imarat (keamiran daerah) di Kanada adalah: Vaughan adalah yang pertama, kemudian Calgary, Peace Village, Vancouver, Brampton West.

Sepuluh Jemaat teratas Kanada adalah: Hadeeqah Ahmad adalah pertama, Milton West, Bradford, Durham, Milton East, Regina, Ottawa West, Winnipeg, Hamilton Mountain, Abbotsford.

Lima keamiran teratas untuk Daftar Atfal adalah: Vaughan adalah yang pertama, diikuti oleh Peace Village, Calgary, Toronto West, Brampton West.

Lima Jemaat teratas untuk Daftar Atfal adalah: Hadeeqah Ahmad adalah pertama, Bradford, Durham, London, Milton West.

Dalam hal koleksi keseluruhan, sepuluh Jemaat teratas Amerika Serikat adalah: Maryland, Los Angeles, Detroit, Silicon Valley, Boston, Austin, Phoenix, Syracuse, Las Vegas dan Fitchburg.

Sepuluh Jemaat teratas menurut Daftar Atfal adalah Maryland, Los Angeles, Seattle, Orlando, Austin, Silicon Valley, Phoenix, Fitchburg, Las Vegas, Zion.

Dalam hal pengumpulan Waqf-e-Jadid dari orang dewasa, tiga Jemaat Pakistan teratas adalah: Lahore adalah 1, Rabwah, Karachi. Posisi untuk distrik adalah: Islamabad adalah 1, Faisalabad, Gujrat, Gujranwala, Sargodha, Multan, Umerkot, Hyderabad, Mirpur Khas, Dera Ghazi Khan.

Dalam hal koleksi keseluruhan, sepuluh Jemaat teratas adalah: Kota Islamabad, Defense Lahore, Townshipa Lahore, Clifton Karachi, Darul Zikr Lahore, Model town Lahore, Gulshan Iqbal Karachi, Samanabad Lahore, Azizabad Karachi, Allama Iqbal Town Lahore.

Tiga Jemaat Besar untuk Daftar Atfal; Lahore ke-1, Karachi ke-2, Rabwah ke-3. Posisi distrik untuk Daftar Atfal adalah: Islamabad adalah 1, Sialkot, Rawalpindi, Sargodha, Faisalabad, Gujrat, Hyderabad, Mirpur Khas, Umerkot, Narowal. Jemaat yang membuat kemajuan luar biasa adalah: Drighroad Karachi, Mughulpura Lahore, Gujranwala Sheher, Bait Al-Fazl Faisalabad, Peshawar sheher, Delhi Gate Lahore, Kotli Azad Kashmir, Nankana Sahib.

Sepuluh provinsi teratas dari India adalah Kerala, Jammu Kashmir, Tamil Nadu, Telangana, Karnataka, Odisha, Punjab, West Benggala, Delhi dan Maharashtra.

Sepuluh Jemaat teratas dalam hal koleksi adalah: Hyderabad, Qadian, Kerala, Pathapiriyam Coimbatore, Bangalore, Calcutta, Calicut, Rishi Nagar dan Malayappalayam.

Sepuluh Jemaat teratas dari Australia adalah: Melbourne Langwarrin, Castle Hill, Marsden Park, Adelaide South, Melbourne Berwick, Perth, Penrith, Adelaide West, Logan East.

Jemaat di Australia dalam hal kontribusi dari orang dewasa adalah: Melbourne Langwarrin, Castle Hill, Marsden Park, Adelaide South, Melbourne Berwick, Perth, Penrith, Adelaide West, Blacktown dan Canberra.

Jemaat Australia dalam hal koleksi dari Atfal adalah, Melbourne, Langwarrin, Adelaide South, Melbourne Berwick, Logan East, Perth, Castle Hill, Melbourne East, Mount Druitt, Penrith dan Brisbane Central.

Itulah posisi peringkat mereka, semoga Allah Ta’ala melimpahkan rejeki bagi semua yang telah mempersembahkan pengorbanan. [3]

Catatan Kaki

  1. Al-Mustadrak ‘alash Shahihain (المستدرك على الصحيحين) nomor 1559, Kitab az-Zakat (كتاب الزكاة), bab satu dirham mengungguli seratus ribu dirham (سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ أَلْفٍ)
  2. Haqiqatul Wahyi, Ruhani Khazain jilid 22 (روحانی خزائن جلد 22) karya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. Malfuuzhaat (ملفوظات جلدچہارم ص2)
  3. Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London-UK), Mln. Hasyim dan Mln. Fazli ‘Umar Faruq. Editor: Dildaar Ahmad Dartono. Referensi: www.alislam.org (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Inggris dan Urdu) dan www.IslamAhmadiyya.net (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Arab).